Sabtu, 24 Oktober 2015

Indahnya Perjalananku


     “Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Baik buruknya perjalanan hidup, pasti akan menjadi suatu kenangan. Kenangan yang akan mengajarkan arti dari sebuah proses kehidupan”
                                                                                                                             
Dan ini adalah sepotong kisah perjalanan hidupku...

***

Malam ini hujan membungkus kota kelahiranku. Dari balik jendela aku bisa melihat ribuan air jatuh membasahi bumi. Menambah dinginnya udara kota Temanggung. Aah, sungguh bahagia sekali rasanya aku bisa kembali ke rumah ini. Rumah yang selalu aku rindukan ketika berada di luar sana. Rumah yang penuh cinta, kasih sayang dan cerita. Kuamati baik-baik setiap sudut kamarku, tidak ada yang berubah sedikitpun. Semua barang tetap berada di tempat yang sama, persis seperti ketika kutinggalkan dua tahun lalu. Bersih, rapi dan terawat. Pasti ibuku yang selalu membersihkan kamar ini.

Namaku Obiet Panggrahito. Saat ini usiaku 25 tahun, sulung dari tiga bersaudara. Aku dilahirkan dari seorang bidadari yang cantik dan penuh kasih sayang, dan dibesarkan oleh tangan seorang ksatria yang penuh perhatian dan cinta. Merekalah ayah dan ibuku. Adik pertamaku seorang laki-laki tampan bernama Bentara Panggrahito dan adik kecilku seorang wanita cantik bernama Lentera Panggrahito. Keluarga kami sangat sederhana. Ayah seorang guru vokal sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga yang merangkap sebagai penjahit. Rumah mungil kami ini berada di sebuah kota indah yang sejuk. Namun, dibalik kesederhanaan ini, aku dan adik-adikku selalu bergelimang kasih sayang, cinta dan perhatian.

Aku adalah seorang penyanyi dan telah mengeluarkan beberapa album.  Dua bulan lalu aku telah menyelesaikan album internasionalku yang ketiga. Di usiaku yang baru 25 tahun ini, bisa dibilang aku telah memiliki segalanya. Karir yang bersinar, harta yang berlimpah, dikagumi banyak orang, dan  suara yang memukau. Mungkin itulah yang dipikirkan banyak orang diluar sana tentangku. Tapi, sungguh bukan hal yang mudah aku bisa sampai pada titik ini. Penuh perjuangan, pengorbanan, kesungguhan, dan keyakinan. Itulah proses kehidupan yang telah aku jalani.

Saat ini, aku sedang meniti karirku di Malaysia. Jauh dari keluarga dan teman-teman. Aku tinggal di sebuah apartemen. Disana aku tinggal bersama asisten dan manajer. Hari-hariku disana disibukkan dengan promo album, perform dari satu stasiun TV ke TV lain, dan on air dari satu radio ke radio lain. Karena kesibukanku itulah, sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah ini. Hampir dua tahun. Dan sore tadi, akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku lagi di sini, di istana mungil yang sangat aku rindukan.

Aku berjalan melangkah menuju sebuah lemari tua di kamarku, mengambil sebuah album foto yang sudah usang namun tetap bersih. Kemudian aku duduk di tepi ranjang tidurku. Perlahan kubuka lembar demi lembar album foto itu. Seketika aku merasa seperti ada desiran halus yang merasuki hatiku. Aku seakan membuka kembali lembar demi lembar kisah perjalanan karirku dulu. Perjalanan yang penuh suka cita, penuh cerita dan penuh cinta.

Tok tok tok...

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

“Obiet” suara seseorang yang ku kenal memanggilku dari luar pintu. Pintu dibuka, muncullah wajah bidadari yang aku rindukan. Ibu.

“Kau sedang apa, Biet?” tanya ibuku penuh kelembutan. Kemudian ikut duduk di sampingku.

“Hmm, tidak ada Bu. Aku hanya sedang melihat-lihat album foto ini” jawabku menunjukkan album foto di tanganku.

Ibu tersenyum, tangan kanannya dengan penuh kelembutan membelai rambutku.

“Perjalanan yang sangat panjang ya Biet”.

Aku mengangguk tersenyum. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku memeluk erat wanita di sampingku ini. Aku sangat merindukannya. Sungguh sangat merindukannya.

“Aku sangat merindukan Ibu” .

“Ibu pun sangat merindukanmu Biet, sungguh rindu sekali. Hampir dua tahun kau tidak pulang ke rumah. Hanya bisa mendengar suaramu lewat telepon. Kau tahu, tidak ada yang paling Ibu rindukan selain dirimu Biet” kata Ibu seraya memelukku erat.

“Maafkan aku ya Bu”.

Ibu tersenyum, mengangguk dan mencium keningku. Aku seperti kembali ke masa-masa lima belas tahun yang lalu.

“Ya sudah, kita makan malam dulu ya, Ayah dan Adik-adikmu sudah menunggu”.

Aku mengangguk. Melangkah menuju meja makan bersama Ibu.

***

Selesai makan malam, Ayah mengajakku untuk berbincang di ruang keluarga. Di luar gerimis masih membasahi kota Temanggung.

“Bagaimana keadaanmu Biet?” tanya Ayah seraya memegang bahuku.

“Seperti yang Ayah lihat, aku baik-baik saja Yah” jawabku ringan.

“Yah syukurlah, kau memang terlihat sangat baik Biet”.

Kupandangi baik-baik wajah laki-laki di sampingku ini. Ayah sudah tidak setangguh dulu, wajahnya terlihat sendu dengan guratan-guratan halus yang mulai tampak. Tangan dan kakinya sudah tidak sekuat dulu. Tetapi, aku masih bisa melihat cahaya semangat di matanya. Mata yang paling aku kagumi selama ini.

“Tuhan, sempatkanlah aku untuk bisa membahagiakan Ayah dan Ibu”  doaku dalam hati.

“Oh iya, bagaimana dengan promo album terbarumu? Tanya Ayah membuyarkan lamunanku.

“Hmm, semua lancar Yah. Bulan lalu, aku sudah menyelesaikan promo di Malaysia. Rencananya, bulan depan aku akan promo di China, Hongkong, Singapore dan mencoba untuk merambah pasar musik Korea Ayah” jawabku penuh semangat. “Semoga Ayah berkenan mendoakan aku”.

“Tentu saja Anakku sayang. Tanpa perlu diminta pun, Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu Biet. Kau  adalah kebanggaan kami” senyum menghiasi wajah Ayah.

“Terima kasih yang tak terhingga Ayah” kupegang erat tangan Ayah. “Oh iya, aku hampir lupa. Aku punya satu kabar gembira lagi, aku menjadi salah satu nominasi penghargaan diacara Awards Induztri Muzik Malaysia Ayah” kataku penuh semangat.

“Oh Tuhan syukurlah, kau sangat hebat Anakku. Ayah sungguh bangga padamu” kata Ayah seraya memelukku.

“Ayah yang telah membuatku menjadi seperti ini. Aku yang justru bangga menjadi putra Ayah” ujarku tersenyum melihat wajah ksatria dihadapanku ini.

Senyum menghiasi wajah teduh Ayah begitu mendengar kata-kataku. “Ternyata kau sudah besar Biet. Kau jauh lebih dewasa sekarang, bukan Obiet yang pemalu lagi” kata Ayah menggodaku. Kami tertawa bersama, melewati malam berdua, menceritakan semua kisah masa lalu.

***

“Selaaamaaaat paaaaaagiiiiiiiiiiiii mas Obiet”.

Sayup-sayup kudengar suara teriakan yang membangunkan tidur lelapku. Aah, aku kenal sekali dengan suara-suara ini. Siapa lagi kalau bukan dua adik tercintaku. Bentara dan Tera. Aku sengaja belum membuka selimut yang menutupi wajahku. Mereka ini selalu saja menganggu tidurku.

“Maaas Obieeeeeeeett, Mmaaaaas Obiiiiiieeeeeeettt”

“Hmm, kenapa mas Obiet belum bangun juga ya mas Ben?” tanya Tera adik bungsuku pada Bentara.”Mas Obiet banguun, banguun, banguuun” kali ini Tera membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Entahlah, mungkin mas Obiet masih lelah” jawab Bentara singkat.

“Lelah apanya tho, kan mas Obiet sudah sampai di rumah sejak kemarin sore, lalu semalam sudah tidur pulas, masa masih lelah juga” kata Tera setengah sewot karena melihatku tak kunjung bangun.

“Mana aku tahu, kenapa kamu jadi sewot sama aku tho dek, memangnya salah aku kalau mas Obiet tidak bangun? Salah teman-temanku? Salah pak presiden? Haah”. Kata Bentara tak kalah sewotnya.

Lho, kenapa bawa-bawa pak presiden tho mas Ben, memangnya mas Ben kenal sama pak presiden?” Jawab Tera

“Ahh sudahlah” Kata Ben. Dari nada bicaranya, ia tampak mulai kesal.

Dari balik selimut, aku  hanya bisa tersenyum geli. Dua adikku ini memang selalu seperti itu. Meributkan hal-hal yang tidak penting. Walau pun aku tahu sebenarnya mereka saling menyayangi.

Sekali lagi Tera menggoyang goyangkan tubuhku. “Mas Obiet bangun tho, masa pulang ke rumah hanya untuk tidur terus” sepertinya ia tak putus asa membangunkanku.

Aku hanya bisa tersenyum dari balik selimut. Sekali-kali tak apa lah mengerjai mereka.

“Mas Obieeeeeeeettt banguuuuun” kali ini Bentara berteriak persis di telingaku. Membuatku terpaksa membuka selimut.

“Aduuh kalian ini” keluhku.

“Yeeeaaahh, akhirnya mas Obiet bangun juga. Mas Ben hebat” Tera bersorak riang melihatku bangun. Kemudian ber-tos dengan Bentara, tanpa memperdulikan keberadaanku. Ahh adik-adikku ini memang istimewa sekali.

“Aduh ada apa ini, kenapa ada suara teriakan?” Tanya Ibu yang tiba-tiba muncul di kamarku dengan nada panik, yang tanpa sadar membawa serta sodet di tangannya.

Bentara dan Tera hanya saling pandang dan kemudian menyunggingkan senyum polos tanpa dosa.

“Tidak ada apa-apa bu, Ben dan Tera membangunkanku dengan nada yang sangat tinggi. Mungkin mereka ingin jadi penyanyi rock bu” Jawabku asal

“Oalah Ben, Tera, kalian ini mengagetkan ibu  saja. Ya sudah, ayo kalian bergegas ke meja makan, sarapan sudah hampir siap. Kau juga lekas mandi ya Biet”

“Iya bu” Jawabku

Mendengar sarapan sudah siap, Ben dan Tera langsung melesat bagai roket ke meja makan. Ibu menyusul di belakangnya. Dan aku bergegas menuju kamar mandi.

***

Sedikit cerita tentang adik-adikku...

Dulu sebelum Bentara lahir, aku sangat kesepian. Apalagi ketika malam tiba, aku selalu bermain sendiri. Ibu selalu disibukkan dengan jahitannya sedangkan Ayah sibuk dengan mengajar privat. 

Pernah suatu ketika, aku menyampaikan keinginanku pada Ayah dan Ibu untuk punya Adik. Ibu hanya berkata supaya aku berdoa pada Tuhan agar segera diberi Adik. Tiap malam sebelum tidur, aku selalu berdoa agar Tuhan segera mengabulkan doaku. Memberiku Adik yang lucu. Tak pernah lelah aku berdoa, sampai akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Tuhan menitipkan seorang Adik di perut Ibu. Aaahh sungguh aku sangat senang sekali, dan tak sabar menunggu kelahiran Adik kecilku.

Ketika Bentara lahir, aku seakan memiliki kehidupan baru. Aku tidak sendiri dan kesepian lagi. Kini aku memilki Adik yang sangat lucu dan pintar. Aku sungguh sangat menyayanginya. Saat itu, untuk mensyukuri kelahiran Adikku, aku dan Ayah membuat sebuah album mini yang didedikasikan untuk Bentara. Album yang semua lagunya diciptakan oleh Ayahku. Kami menjualnya kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman dekat. Dan sungguh luar biasa, diluar dugaan semua menyukai lagu-lagu yang ada di albumku.

Aku memang sangat menyukai musik sejak kecil. Ayah yang mengajarkanku untuk bernyanyi. Kami selalu melewati hari dengan bernyanyi bersama. Pernah suatu ketika, Ayah mendapat undangan untuk menjadi pengiring  disebuah acara musik di Mall dan mengajakku untuk bernyanyi. Awalnya aku sangat takut dan malu, tetapi Ayah selalu membesarkan hatiku untuk terus percaya diri. Sejak saat itu, Ayah selalu mengajakku bernyanyi dimanapun Ayah perform. Dan seiring berjalannya waktu, kepercayaan diriku terus tumbuh.  Dari situlah, perlahan pundi-pundi rupiah mulai aku dapatkan.

Suatu malam, Ayah memberiku uang hasil dari menyanyi di sebuah acara.

“Ini adalah hasil dari usahamu Biet”. Kata Ayah seraya menyodorkan uang ke tanganku. “Tetapi kau harus ingat, bukan ini tujuan utama kau bernyanyi”. Ayah tersenyum.

Ya, Ayah selalu bilang bahwa uang bukan tujuan utamaku bernyanyi. Aku bernyanyi untuk memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang yang mendengarnya. Dengan suaraku ini, aku ingin memiliki banyak teman dan bertemu dengan orang-orang yang hebat di seluruh dunia.

Jessica Lentera Panggrahito, dialah adik bungsuku. Dan satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Tera, begitu ia biasa disapa. Adikku yang satu ini sangat lincah dan periang. Ia selalu punya cara untuk membuat suasana di rumah menjadi hangat dan menyenangkan. Sesuai dengan namanya Lentera, dialah yang menjadi penerang di kerajaan cinta kami.

***

“Ayo mas Obieeeeet, mas Beeeeeen, aku sudah siaaaaaaaaap” teriak Tera dari ruang makan

Bahkan dari dalam kamar pun aku bisa mendengar teriakan Tera. Adikku yang satu ini memang luar biasa.

“Mas Obieeeeet, mas Beeeeen, ayo nanti keburu siaaaaang” Teriaknya lagi

“Oalah Tera, cah ayu, kamu ini cantik-cantik kok hobinya teriak sih” Ibu menegur Tera, yang langsung membuatnya diam.

Aku tersenyum mendengar Ibu menegur Tera. Hari ini, aku dan kedua adikku hendak berjalan-jalan di sekitar desa tempat tinggalku. Ke sawah, sungai, dan ke semua tempat bermainku sewaktu kecil dulu. Karena itu, Tera sangat semangat sekali ketika tadi selesai sarapan aku ajak untuk berjalan-jalan.

“Kamu ini anak perempuan kok hobinya teriak-teriak sih dek” Ujarku pada Tera begitu tiba di ruang makan.

“Hehehe, maaf mas Obiet” Ujar Tera dengan wajah polosnya

“Minta maaf sama Ibu” Kataku.

“Maafkan aku ya Bu” Kata Tera pada Ibu yang sedang asyik menjahit.

“Iya sayang, tapi jangan dibiasakan ya, anak perempuan itu harus lemah lembut” Kata Ibu menasehati Tera dengan penuh kasih sayang.

Tera hanya mengangguk dan memeluk Ibu dari belakang. Ibu membalas dengan membelai rambut adik kecilku itu. Tak lama Tera melepas pelukannya.

“Memangnya kalian ini mau kemana tho?” Tanya Ibu.

“Hanya mau berjalan-jalan di sekitar sini saja Bu” Jawabku ringan. “Ayah kemana Bu?” Aku balik bertanya pada Ibu. Celangak celinguk mencari sosok Ayah yang tidak kutemukan.

“Tadi selesai sarapan Ayahmu langsung pergi, katanya ada urusan yang harus diselesaikan di Jogja” Jawab Ibu

“Ayah pergi dengan siapa Bu? Naik apa?” Tanyaku penasaran

“Sendiri Biet, tadi naik motor” Jawab Ibu

“Kenapa tidak minta tolong padaku Bu?”

“Hmm, mungkin Ayah tidak mau merepotkanmu Biet, jadi lebih baik Ayah pergi sendiri” Jawab Ibu sambil menjahit. Tangannya sungguh terampil menggunakan mesin jahit.

Aku termenung sejenak, “Tolong lindungi Ayah Tuhan” Doaku dalam hati

“Oke, aku sudah siap, ayo jalan” Seru Bentara yang tiba-tiba muncul

“Mas Ben ini lama sekali, hhuuuhh” Keluh Tera

“Ya sudah ayo jalan, jangan bertengkar terus” Kataku pada Ben dan Tera. “Bu, kami pamit dulu ya” Aku berpamitan pada Ibu, lalu mencium tangan Ibu yang juga diikuti oleh kedua adikku.

“Kalian hati-hati ya”

“Siiiaaapp buuuu” Seru Bentara dan Tera bersamaan. Aku mengangguk dan tersenyum pada Ibu.

***

Hari itu aku, Bentara, dan Tera berjalan-jalan mengelilingi kota Temanggung. Kota kelahiranku yang sudah lama kutinggalkan. Kami mendatangi semua tempat bermainku dulu. Semua telah banyak berubah. Tidak sama lagi seperti dulu.   

“Mas Obiet rindu tidak pada kakak-kakak d’Bieterz?” Tanya Bentara tiba-tiba, ketika kami sedang duduk santai di sebuah saung di tengah sawah.  

Seketika aku tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan Bentara. Pikiranku melayang mengingat satu persatu wajah kakak-kakak d’Bieterz yang selalu menemani hari-hariku dulu.

“Rindu tidak Mas?” Bentara kembali bertanya

Aku hanya diam tak menjawab pertanyaan Bentara.

Kami berdua diam, tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Di tengah sawah sana, Tera tengah asyik bermain.

“Kalau aku, aku sangat merindukan kakak-kakak d’Bieterz Mas” Kata Bentara membuyarkan lamunanku. “Dulu, ketika awal Mas Obiet pindah ke Malaysia, mereka masih sering berkunjung ke rumah, tetapi sekarang ini sudah jarang sekali Mas” Kata Bentara

Aku terdiam.

“Mungkin mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing dek” Ujarku sambil terus memandang Tera yang sedang asyik bermain.

“Iya ya, mungkin saja Mas”

“Mas Obiet, Mas Ben, kenapa hanya duduk di sini, tidak ikut main sama aku tho” Tera tiba-tiba datang mendekati kami.

Aku menggeleng lantas melihat jam di tangan kiriku, ternyata sudah siang.

“Sebaiknya kita pulang ya dek, sudah siang, kasihan Ibu di rumah sendiri” Ajakku
Bentara dan Tera mengangguk mengikuti ajakanku.

***

Sampai di rumah, aku mendapati Ibu tengah sibuk di dapur. Menyiapkan makan siang untuk kami. Bagiku,  Ibu adalah sosok yang paling hebat. Di tengah banyaknya kegiatan yang dilakukan, sekalipun tak pernah kudengar keluhan dari bibirnya. Ibu selalu mengerjakan semuanya dengan penuh keikhlasan. Sungguh, aku sangat bangga pada Ibu.

Kuhampiri Ibu di dapur, sedangkan Bentara dan Tera langsung sibuk memperebutkan remote televisi.

“Bu” panggilku

“Oalah, kalian sudah pulang?” Tanya Ibu terkejut.

Aku mengangguk. “Masak apa bu?” Aku balik bertanya

“Ibu masak sayur dan pastinya telur ceplok kesukaanmu Biet” Jawab Ibu

Aku tersenyum. Ternyata Ibu tidak pernah melupakan makanan kesukaanku.

“Ayah belum pulang Bu?” Tanyaku

“Belum, mungkin sore nanti baru pulang” Jawab Ibu

“Hmm ya sudah aku mau ke kamar dulu ya”

“Iya, nanti kalo sudah siap Ibu beritahu ya”

Aku mengangguk dan langsung menuju kamar.  

***

Sejak perbincangan singkat dengan Bentara di saung tadi, aku ingin sekali cepat-cepat pulang. Tujuanku hanya satu, membuka album foto yang belum sempat aku lihat sepenuhnya semalam. Kuambil kembali album foto itu, kupeluk erat dengan kedua tanganku. Entah kenapa tiap kali memegang album foto ini, rasanya seperti ada desiran halus yang merasuki hatiku. Rindu. Ya, aku sangat merindukan masa-masa itu. Rindu mereka. Rindu semua potongan kisah di masa itu.

Perlahan kubuka lembar demi lembar kisah masa lalu itu. Banyak kisah yang tersirat di album foto ini. Perjuangan, pengorbanan, kasih sayang, dan juga cinta.

“Mas Obiet rindu tidak pada kakak-kakak d’Bieterz?”. Pertanyaan Bentara kembali hadir di kepalaku.

Lamat-lamat kupandangi wajah mereka di salah satu foto.

“Apakah aku merindukan kakak-kakak d’Bieterz?”                                                                                                                      
Ya, aku rindu. Sangat rindu. Merekalah yang selalu ada untukku. Dikala aku senang maupun sedih, mereka jugalah yang tanpa lelah memberikan semangatnya untukku.

Aku rindu. Teramat rindu.

“Dimana kalian kak, apakah kalian masih mengingatku?”

Tak terasa, bulir-bulir air jatuh membasahi album foto di tanganku. Ada apa ini? kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak. Seperti dijatuhi beban yang sangat berat. Kenapa pula tiba-tiba aku menangis.

Tuhan, aku sungguh sangat merindukan mereka. Ya, mereka. Mereka yang selalu setia berada di sampingku. Mereka yang telah menjadi bagian kisah hidupku.

Ingatanku kembali berputar, mengingat secara detail masa-masa itu. masa-masa 15 tahun silam.

***
15 tahun silam.

Siang itu, seperti biasa sepulang sekolah aku selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersama adikku Bentara. Usianya masih 2 tahun. Sudah menjadi tugasku menjaga Bentara setiap pulang sekolah, karena Ibu harus menjahit baju pesanan pelanggan. Ketika tengah asyik bermain dan menonton televisi bersama Bentara, aku melihat ada sebuah iklan kontes bernyanyi untuk anak-anak. Dengan takzim aku melihat iklan itu sampai selesai. Entah kenapa tiba-tiba muncul keinginan yang besar dalam hatiku untuk mengikuti kontes itu. Aku ingin sekali.

Tetapi.....

Bagaimana aku mengatakannya pada Ayah dan Ibu?

Aku takut.....

***

Malam harinya.

“Kau kenapa Nak?” Tanya Ayah mengagetkanku yang sedang duduk termenung di teras rumah.

“Eh, a..a..aku tidak apa-apa Yah” Jawabku bingung

“Hayo, ada apa tho? Ayah perhatikan sejak siang tadi kau lebih banyak diam” Tanya Ayah

Ya memang, sejak siang tadi, entah kenapa bayang-bayang kontes itu terus berputar-putar di kepalaku. Aku ingin sekali mengikuti kontes itu. Teramat ingin.

Tetapi....

“Nah kan, kau melamun lagi” Lagi-lagi Ayah mengagetkanku

“Hmm, aku tidak apa-apa Ayah, hanya sedang memikirkan sesuatu saja” Jawabku tersenyum

“Tidakkah kau mau berbagi dengan Ayah Biet?” Tanya Ayah

Aku menggeleng.

“Baiklah, Ayah tidak akan memaksa. Tetapi kalau kau berubah pikiran, Ayah selalu siap untuk mendengarkan semua ceritamu Biet” Kata Ayah seraya menepuk bahuku.

Aku tersenyum mengangguk “Iya Ayah. Terima kasih”.

Ayah mencium lembut kepalaku dan berkata “Kau cepatlah masuk ke dalam, udara sudah semakin dingin. Dan jangan tidur malam-malam, kau perlu tenaga yang cukup untuk menghadapi hari esok. Ayah masuk dulu ya”

“Baik Ayah” Jawabku.

Ayah meninggalkanku sendiri.

10 menit berselang, aku mulai merasakan dinginnya udara malam Temanggung. Maka kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan memejamkan mata, berharap semoga keinginan itu hilang terbawa mimpi.

***

Tok tok tok...

“Biet, boleh Ibu masuk?” Suara Ibu terdengar dari luar kamarku, membuyarkan lamunanku akan kenangan masa 15 tahun silam.

Aku membukakan pintu, “Iya bu”.

“Loh, kau kenapa Biet?” Tanya Ibu terlihat terkejut

“Aku? Aku tidak apa-apa Bu, memangnya kenapa?” Aku balik bertanya pada Ibu

“Matamu berair Biet, kau habis menangis?” Tanya Ibu lagi sambil menunjuk mataku

Aku gelagapan dan spontan menghapus air mataku

“Ooh tidak Bu, tadi aku habis pakai obat tetes mata, jadi masih berair” Jawabku tersenyum asal. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa memang benar aku habis menangis, aku tidak mau Ibu khawatir.

“Maafkan aku ya Bu, sudah berbohong. Ampuni aku Tuhan” Doaku dalam hati

“Hmm begitu, ya sudah ayo makan siang dulu. Makanan sudah siap, adik-adikmu juga sudah menunggu. Mereka itu kalau soal makan paling jago. Kalau kau tidak bergegas, bisa-bisa makanan untukmu pun dihabiskan loh” Kata Ibu tertawa.

Aku tersenyum mendengar ucapan Ibu, kemudian menuju meja makan. Dan benar saja, di meja makan kudapati dua adikku tengah asyik mengunyah makanan. Sambil sesekali saling menjahili satu sama lain. Bentara mengambil makanan Tera, atau Tera mengambil makanan Bentara. Ah, mereka ini. Entah bagaimana rasanya kalau di rumah ini tidak ada mereka. Pasti sepi sekali.

“Maaf ya Biet, Ibu hanya bisa masak ini?” Kata Ibu sambil mengambilkan nasi, sayur dan telur ceplok ke piringku. “Di sana kau pasti makan makanan yang lebih enak dari ini kan?”

“Ibu tahu tidak, sampai detik ini telur ceplok buatan Ibu adalah makanan kesukaanku. Lebih lezat dari semua makanan yang pernah aku makan” Jawabku.

“Setujuuuuuuuuuuuuuuuuu” Teriak Bentara dan Tera bersamaan, membuatku dan Ibu kaget.

“Aah kalian ini, ya sudah dihabiskan ya” Ibu tersenyum.

***
Malam hari sekitar pukul 08.00, setelah kami selesai makan malam, Ayah baru tiba di rumah. Aku yang membukakan pintu untuknya.

“Kenapa Ayah baru pulang?” Tanyaku saat kubuka pintu.

“Iya, tadi Ayah harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di Jogja Biet” Jawab Ayah sambil memasukkan motor ke dalam rumah.

“Oh, Ayah sudah makan malam?” Tanyaku lagi.

“Sudah Biet, tadi sebelum pulang, Ayah diajak makan malam dulu oleh teman Ayah. Hmm, tampaknya kau sangat mengkhawatirkan Ayahmu ini ya?” Tanya Ayah tersenyum menggodaku.

“Ya jelas aku mengkhawatirkan Ayah, kenapa Ayah tidak mengajakku untuk menemani Ayah ke Jogja tadi?” Tanyaku.

“Ayah tidak mau merepotkanmu Biet. Dan lihatlah, Ayahmu ini masih kuat loh berpergian sendiri” Kata Ayah sambil mengangkat kedua tangannya.

Aku tertawa melihat Ayah. Ayahku ini istimewa sekali. Walau dalam keadaan lelah, tak pernah sekalipun ia mengeluh.

“Ayah pasti lelah, mau aku pijat?” Tanyaku

Ayah tertawa mendengar pertanyaanku, “Memangnya kau bisa memijat?” Ayah balik bertanya

“Bisa dong, mau aku buktikan. Mari sini aku pijat Yah” Kataku sambil meminta Ayah untuk duduk di sofa.

“Masa sih artis mijat Ayah?” Kata Ayah begitu duduk di sofa, tersenyum menggodaku.

“Hmm, Ayah ini, di luar sana statusku mungkin artis, tetapi di dalam rumah ini, aku tetaplah anak Ayah. Dan sudah menjadi tugas seorang anak untuk membantu Ayahnya, apalagi hanya memijat Yah” Jawabku panjang lebar, membalikkan senyum menggoda ke Ayah.

Ayah tertawa mendengarnya, kemudian membalikkan badan membelakangiku, “Baiklah, Ayah ingin merasakan pijatan seorang artis Asia”

Aku mulai memijat bahu ayah. Ku amati dengan seksama tubuh di hadapanku ini. Ternyata ksatriaku ini sudah tidak muda lagi. Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Rambutnya pun kini tak sempurna hitam. Walau tidak muda lagi, sampai detik ini Ayah masih saja semangat menghidupi kami. Tak pernah sekalipun kudengar ia mengeluh.  Dan ksatria ini lah yang menjadi sumber kekuatanku untuk bertahan di negeri seberang.

“Enak tidak Yah pijatanku?” Tanyaku.

“Enak sekali Biet, tak disangka ternyata seorang artis Asia pandai sekali memijat” Jawab Ayah.

Aku tersenyum mendengar jawaban Ayah “Obiet gitu loh”.

“Sudah cukup Biet. Terima kasih ya” Kata Ayah, kemudian membalikkan badannya. Dengan seksama Ayah menatap wajahku, tatapannya dalam sekali. Membuatku bertanya-tanya.

“Ada apa Yah? Kenapa Ayah menatapku seperti itu?” Tanyaku.

“Tak terasa ya, kau sudah sebesar ini Biet. Padahal rasanya baru kemarin Ayah menggendongmu, melihatmu belajar berjalan, mengajarimu bernyanyi, dan melihatmu memakai seragam sekolah. Tapi hari ini kau telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang hebat, terkenal, dan dicintai banyak orang. Kau tahu, Ayah sangat bangga padamu Biet” Jawab Ayah panjang lebar.

“Ayah...” Tiba-tiba  entah kenapa aku justru merasa sedih mendengar kata-kata Ayah tadi. Membuatku sulit bicara.

“Kau kenapa Biet?” Tanya Ayah.

“Ayah, selama aku hidup, Ayahlah yang selalu menjadi sumber kekuatanku. Ayah yang selalu ada di kala senang maupun sedihku. Aku tak tahu bagaimana jadinya diriku tanpa Ayah. Dan...” Kata-kataku terputus, tiba-tiba seperti ada yang menyumbat tenggorokanku.

“Dan..apa Biet?” Tanya Ayah penasaran.

“Dan.. Aku sangat menyayangi Ayah lebih dari apapun di dunia ini” Jawabku sambil memeluk Ayah. Ayah balas memelukku. Erat sekali.

Aku tak ingin cepat-cepat melepaskan pelukan ini. Kapan terakhir kali aku merasakan pelukan Ayah? entahlah, mungkin sudah lama sekali. Biarlah malam ini, aku ingin menjadi malaikat kecilnya lagi, sama seperti dulu.

“Ayah pun sangat menyayangimu Biet, lebih dari diri Ayah sendiri”

Aku melepaskan pelukanku. Menatap wajah laki-laki hebat di hadapanku ini. Mata itu, mata yang selalu aku kagumi sejak dulu. Mata itu masih sama seperti dulu, selalu memberi keteduhan bagi siapa saja yang memandangnya. Dan kini, mata itu penuh dengan rasa kebanggaan.

“Ayah.. Terima kasih banyak telah menjadikanku seperti sekarang ini. Aku bisa sampai pada titik ini, berkat doa, motivasi, dan kepercayaan dari Ayah. Ah, mungkin kata terima kasihku ini pun tak cukup untuk membalas semua kebaikan Ayah padaku. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan pada Ayah” Lalu dengan takzim kucium telapak tangan Ksatriaku ini.

Ayah membalas dengan membelai lembut rambutku dan menciumnya. Seketika aku merasa tubuhku seperti dimasuki aliran kasih sayang yang tulus dari seorang Ayah.

“Saat ini kau telah meraih sebagian mimpimu Biet, teruslah belajar dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Ayah tahu, bukan hal mudah bagimu untuk bertahan di negeri lain seorang diri. Tetapi kau harus ingat, ketika kau mulai lelah dan kehilangan semangat, ingatlah bagaimana perjuanganmu dulu ketika memulai. Ingatlah orang-orang yang selalu ada untuk mendukungmu. Teruslah berjalan, belajar dan berusaha. Lalu bingkai semuanya dengan doa. Dengan itu, maka Tuhan akan ikut serta dalam perjalananmu Biet” Nasehat Ayah ini sangat menyentuh hatiku. Aku mengangguk. Tersenyum pada Ayah. Sebuah senyum kelegaan.

Ya, aku harus selalu semangat dan berjuang. Ini bukan hanya untukku seorang tapi juga untuk semua orang yang menyayangiku. Ini untuk d’Bieterz.

***

Nasehat Ayah tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Membuatku sulit untuk memejamkan mata. Memang terkadang, aku merasa lelah, bosan dan putus asa menjalani hari-hariku di sana. Rasanya aku ingin sekali  kembali ke kota kecil tempat kelahiranku ini. Tetapi tentu saja tidak semudah itu aku meninggalkan semua yang telah aku rintis di sana. Dan nasehat Ayah tadi seperti menyadarkanku.

“ketika kau mulai lelah dan kehilangan semangat, ingatlah bagaimana perjuanganmu dulu ketika memulai”

Tentu saja bukan hal yang mudah saat dulu aku memulai karirku ini. Masih terekam jelas dalam memoriku bagaimana perjalanan awal saat aku mulai dikenal banyak orang. Di Acara kontes menyanyi itu. 15 tahun yang lalu.

***

Sepulang sekolah.

Seperti biasa, sepulang sekolah kuhabiskan waktu bermain bersama adikku Bentara. Siang ini, kembali aku melihat iklan kontes menyanyi itu. Aaaah, entah kenapa tiap kali melihat iklan itu, keinginanku justru semakin besar. Semakin ingin kuhilangkan, justru semakin kuat keinginan itu terpatri dalam hatiku.

“Baiklah, malam ini akan kukatakan pada Ayah dan Ibu tentang keinginanku ini” Kataku dalam hati

***

Selesai makan malam, kami berempat menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama. Kebetulan malam ini Ayah sedang libur privat, ibu pun telah menyelesaikan jahitannya. Ini waktu yang tepat. Aku akan memberanikan diri menyatakan keinginanku.

“Ayah, Ibu. Hmm, ada yang ingin aku sampaikan” Kataku membuka obrolan. Hati-hati sekali aku mengatakannya, takut kalau Ayah dan Ibu akan marah mendengar keinginanku.

“Ada apa Biet? Kau ingin menyampaikan apa?” Tanya Ibu yang sedang menggendong Bentara.

Cukup lama aku terdiam, “Hmm, aku...aku...” Kata-kataku terputus seperti ada yang menyumbat tenggorokanku.

“Duuh,kenapa susah sekali mengatakannya” kataku dalam hati.

“Kau ini kenapa tho Biet, susah sekali bicaranya” Kali ini Ayah yang berkata.

“Ayah, Ibu... Aku ingin sekali mengikuti acara kontes menyanyi” Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku.

“Oalaaah, Ibu kira kau ingin mengatakan apa Biet. Hanya itu tho” Kata Ibu tertawa. “Bukannya kamu memang sudah sering ikut kontes menyanyi tho Biet, kenapa seperti berat sekali mengatakannya?” Ibu balik bertanya.

“Karena.....yang ingin aku ikuti ini kontes menyanyi yang diadakan salah satu stasiun televisi di Jakarta Bu” Jawabku dengan menundukkan kepala.

Entah apa rencana Tuhan. Kebetulan pas di detik yang sama, iklan kontes menyanyi itu muncul di televisi, membuat kami berpaling ke arahnya. Dari iklan itu, kudengar audisi diadakan di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Jauh sekali dari tempat tinggalku. Selesai iklan itu, aku tak berani melihat wajah Ayah dan Ibu. Aku lebih memilih menunduk dalam diam. Tentu saja, tanpa kusadari Ayah dan Ibu saling pandang setelah melihat iklan tadi.

“Biet, kontes menyanyi itu yang kau maksud?” Tanya Ayah.

Aku mengangguk sambil terus menunduk.

“Kenapa kau ingin mengikuti kontes itu?” Tanya Ayah lagi

“Aku...aku...aku ingin bertemu dengan orang-orang hebat Ayah dan aku ingin memberi kedamaian untuk semua orang dengan suaraku” Jawabku masih terus menunduk.

“Lihat wajah Ayah Biet”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajah Ayah. Ayah tersenyum, menatap mataku dalam sekali kemudian memelukku. Entah apa maksud dari pelukan Ayah itu. Tapi aku merasa hangat.

“Anakku sayang, Ayah tahu keinginanmu sangat besar untuk mengikuti kontes itu. Ayah bisa lihat dari matamu. Tetapi...” Kalimat Ayah terputus.

“Tetapi apa Ayah?” Tanyaku penasaran.

“Maafkan Ayah Biet, untuk saat ini, Ayah belum bisa mengabulkan keinginanmu. Tempat audisi yang diadakan semua jauh dari tempat tinggal kita. Sedangkan Ayah tak punya cukup uang untuk biaya ke sana Biet, uang yang kita punya saat ini hanya cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari” Jawab Ayah.

Aku kembali menunduk. Menahan tangis yang rasanya sudah mau meledak. Ayah dan Ibu kembali saling pandang. Ibu mengusap lembut kepalaku.

“Tetapi Ayah janji, mulai sekarang Ayah akan menabung. Semoga di kontes selanjutnya, kau bisa mengikutinya Biet. Ayah janji” Kata Ayah membesarkan hatiku.

Aku mengangkat wajah, menatap mata Ayah dan Ibu. Kemudian tersenyum pada Ayah dan Ibu.

“Iya tidak apa-apa Ayah. Aku mengerti. Mulai  sekarang aku pun akan bersabar dan terus berlatih menyanyi, supaya bisa ikut di kontes selanjutnya Yah” Jawabku.

Ayah dan Ibu memelukku erat sekali. Aku tersenyum dan lega, karena sudah berani mengatakan keinginanku. Walaupun hasilnya tidak seperti yang aku harapkan.

Apakah aku kecewa? Itu pasti. Tetapi akan lebih mengecewakan jika aku tetap memaksakan keinginanku di tengah ketidakberdayaan orang tuaku. Ayah dan Ibu lebih berharga dari kontes itu. Dan aku akan memilih untuk bersabar. Aku yakin di kontes selanjutnya aku pasti akan ikut.

***

Waktu terus bergulir, hari terus berpilin.

Tak terasa setahun telah berlalu. Hari-hariku disibukkan dengan sekolah, latihan menyanyi di sanggar dan bermain dengan Bentara maupun teman-teman. Apakah aku masih memikirkan kontes itu? Apakah keinginanku masih besar? Jawabannya adalah iya, keinginanku masih sangat besar untuk mengikuti kontes itu. Tetapi sepertinya belum ada informasi mengenai kontes itu lagi. Padahal sudah setahun berlalu sejak kontes itu menunjuk Kiki sebagai juara 1. Ya, mungkin aku masih harus bersabar.

***

Malam hari.

“Loh Ayah tidak mengajar privat?” Tanyaku karena melihat Ayah sedang menonton televisi sambil memangku Bentara.

“Tidak Biet, malam ini Ayah libur, ingin menghabiskan waktu bersama malaikat-malaikat kecil Ayah” Jawab Ayah

Aku tersenyum dan bergabung duduk di sebelah Ayah. Ibu seperti biasa sedang menjahit baju pesanan pelanggan setianya. Seperti ada yang menarik tanganku, entah kenapa aku langsung mengganti chanel televisi. Mungkin inilah yang dinamakan takdir, tepat ketika berpindah chanel, sebuah iklan yang paling aku tunggu-tunggu hadir dihadapanku, Ayah, dan si kecil Bentara. Ayah dan aku saling pandang, kemudian tersenyum. Kuamati lagi iklan itu dengan takzim sampai selesai. Saling pandang lagi dengan Ayah. Dan kali ini senyum kami semakin lebar.

“Kali ini aku bisa ikut Yah?” Tanyaku begitu iklan itu selesai.

Ayah menjawabnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala. Demi melihat senyum dan anggukan kepala itu, aku spontan memeluk Ayah. Erat sekali.

“Terima kasih Ayah, terima kasih” Kataku dengan sejuta kesenangan yang tumbuh dalam hati.

“Ibuuuuuu.....Ibuuuuuu” Aku berteriak memanggil Ibu. Sebenarnya bukan kebiasaanku berteriak-teriak memanggil Ibu. Hanya saja dalam kesenangan yang luar biasa ini, aku melupakan semuanya. Ibu datang dengan wajah yang panik.

“Ada apa, ada apa tho Biet?” Tanya Ibu panik.

Spontan aku memeluk Ibu, yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

“Aku bisa ikut Bu, kali ini aku bisa ikut” Jawabku dengan penuh semangat, sambil terus memeluk Ibu.

“Ikut apa tho?” Tanya Ibu lagi. Tak mendapat jawaban dariku, Ibu bertanya pada Ayah. “Ikut apa tho Yah?”

“Itu loh Bu, kontes menyanyi  yang tahun lalu ingin Obiet ikuti. Sekarang sudah mulai diadakan lagi. Dan kali ini audisi juga diadakan di Jogja. Lebih dekat dari sini kan. Dan Ayah rasa uang tabungan yang kita kumpulkan cukup untuk biaya ke sana Bu” Jelas Ayah.

“Aahh syukurlah, akhirnya kesabaranmu berbuah manis Biet” Kata Ibu memeluk dan mencium rambutku.

Malam ini, kebahagiaan singgah di istana mungil kami. Bukan hanya aku yang merasakan kebahagiaan ini, tetapi juga Ayah, Ibu dan mungkin si kecil Bentara pun ikut merasakan kebahagiaanku. Malam ini, aku belajar sesuatu, bahwa tidak ada yang sia-sia dari sebuah kesabaran.

***

Dua minggu kemudian.

Inilah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Hari pertama audisi.

Aku dan Ayah berangkat menuju Jogja untuk mengikuti audisi. Pagi-pagi sekali aku berangkat dari Temanggung menuju Jogja. Berharap bisa sampai tepat waktu. Tetapi ternyata perjalanan menuju Jogja itu harus diwarnai dengan kemacetan yang luar biasa. Aku takut jika pendaftaran audisinya ditutup. Setahun sudah aku menanti-nantikan hari ini, aku tidak mau kehilangan moment ini.

“Duuh, kenapa macet sekali Yah?” Kalimat keluhan keluar dari bibirku.

“Hayoo, jangan mengeluh” Kata Ayah sambil tersenyum. “Jalanan di Jogja ya memang seperti ini Biet, selalu macet. Daripada mengeluh lebih baik kau berdoa semoga kita bisa sampai tepat waktu” Kata Ayah

Aku terdiam sesaat, “Maaf ya Yah”

Sebenarnya bukan hal yang mudah untuk melakukan perjalanan ini. beberapa hari sebelum hari ini, banyak sekali kejadian yang sempat membuatku bingung untuk meneruskan niatku ini atau tidak. Dua hari yang lalu, Ibu mengalami keguguran, membuat kami merasa sedih. Tadinya Ibu juga akan ikut mendampingiku ke Jogja. Tetapi Ibu harus beristirahat demi kesehatannya. Selain itu, karena audisi diadakan dua kali, maka aku harus menginap di Jogja. Sedangkan tabungan Ayah hanya cukup untuk biaya transportasi ke Jogja, maka diputuskan kami akan menginap di rumah salah seorang kerabat Ayah. Walaupun rumah itu sudah lama tidak ditempati, tetapi masih bisa dipakai kalau cuma satu malam.

Satu jam kemudian kami sampai di tempat audisi. Dan ternyata antriannya sudah panjang dan ramai oleh peserta dari berbagai daerah. Sebelum turun dari mobil tua milik Ayah, aku mengganti baju yang kupakai dengan baju baru yang sengaja kubeli untuk hari ini. Dan aku membelinya dengan uangku sendiri, hasil dari menyisihkan uang jajanku tiap harinya.

Sebelum masuk ke dalam antrian, Ayah menelepon salah seorang temanku di sanggar yang juga mengikuti audisi ini. Ternyata dia sudah mendaftarkanku terlebih dahulu.

“Kau sudah siap?” Tanya Ayah

Aku mengangguk mantap. Ayah tersenyum dan mengambil barang-barang yang akan dibawa. Biola dan sebuah tas besar.

“Duuh, repot sekali ini” Keluh Ayah.

“Eeeeeiiitsss, jangan mengeluh Ayah” Aku tersenyum membalikkan kalimat Ayah.

Kami berdua tertawa. Kemudian turun dari mobil dan menuju ke dalam antrian. Di sana temanku telah menunggu. Kami sungguh berterima kasih padanya, karena berkatnya kami bisa langsung masuk ke dalam antrian dan bisa  mengikuti audisi ini.

Waktu terus berjalan. Detik demi detik terlewati. Jam demi jam terlampaui.

Hingga akhirnya namaku dipanggil untuk masuk ke ruang audisi. Di dalam aku bertemu dengan para juri yang sangat ramah dan baik. Aku tidak merasa seperti sedang audisi,  justru merasa sedang bernyanyi di depan keluargaku. Aku menyanyikan lagu yang berjudul “Terima Kasih Cinta”. Diluar dugaanku ternyata mereka menyukai suaraku. Dan aku dinyatakan lolos audisi di hari pertama ini. Aku sangat bersyukur pada Tuhan. Tuhan sangat baik padaku.

Di depan ruang audisi Ayah menungguku dengan tenang. Ia sangat bahagia ketika kuberitahu bahwa aku lolos audisi.

“Syukur pada Tuhan, selamat Biet. Kau sungguh hebat” Kata Ayah memelukku erat.

Tapi sayang kebahagiaanku saat itu tidak dialami oleh temanku. Dia tidak lolos audisi. Aku berusaha menghibur dan membesarkan hatinya, bahwa ia masih bisa mengikuti audisi di tahun berikutnya. Selesai audisi, kami berdua menuju rumah kerabat Ayah. Setengah jam berlalu, kami sampai di rumah itu.

Rumah itu sepi tak ada penghuninya, tetapi di dalamnya masih terdapat barang-barang. Kami bermalam di rumah itu. Untungnya, di jalan tadi kami sempat makan malam, jadi bisa langsung beristirahat. Rumah itu nyaman. Tetapi ada satu yang tidak aku suka. Di rumah itu banyak sekali tikusnya. Dan aku tidak suka tikus. Sama sekali tidak.

“Ya sudah lebih baik sekarang kita istirahat Biet, besok kau masih harus audisi lagi. Kau harus 
mengumpulkan tenaga. Tikus-tikus itu tidak akan mengganggumu. Ada Ayah di sini”. Kata Ayah mengeluarkan jiwa ksatrianya.

Malam itu, aku tidur dalam pelukan Ayah. Rasanya nyaman dan hangat sekali. Sama seperti pelukan Ibu. Beruntungnya diriku memiliki ksatria ini. Yang selalu ada untuk mendukung dan melindungi setiap langkahku.
Di hari kedua audisi, aku pun dinyatakan lolos. Itu artinya aku akan berangkat ke Jakarta. Langkahku menuju panggung kontes itu semakin dekat. Tak henti-hentinya aku dan Ayah mengucap syukur pada Tuhan.

***

Tok tok tok

“Mas Obiet sudah tidur belum?” Suara seseorang di luar kamar membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Sepertinya itu Lentera.

“Belum dek, silahkan masuk” Jawabku masih dengan posisi tertidur di tempat tidur.

Pintu dibuka. Dan benar saja, muncul Lentera dengan memakai baju tidur lengkap dengan membawa sebuah boneka. Aku bingung melihatnya. Tetapi ia malah tersenyum manja padaku.

“Boleh aku tidur bersama mas Obiet malam ini?” Tanyanya sambil mengeluarkan jurus “nyengir kuda”

Aku tersenyum mendengarnya, “ada angin apa tiba-tiba anak ini ingin tidur denganku?” Tanyaku dalam hati. Tetapi demi melihat senyum itu, aku pun luluh dan mengizinkannya tidur denganku malam ini.

Aku mengangguk dan menepuk-nepuk kasur di sebelahku yang artinya mengizinkan Lentera untuk tidur denganku malam ini. Ia terlihat sangat senang dan langsung melompat ke kasur di sebelahku. Tetap dengan “nyengir kuda” nya.

“Terima kasih mas Obiet” Jawabnya polos. Aku mengangguk dan membelai lembut rambut adik kecilku ini.

“Mas Obiet tahu nda, boneka dari mas Obiet ini adalah boneka kesayanganku loh. Dan jadi teman tidurku juga”.

“Kau sayang pada boneka ini dek?” Tanyaku sambil terus membelai lembut rambutnya.

“Iya, tentu saja. Aku sayang pada boneka ini, sama seperti aku sayang pada mas Obiet juga”. Jawabnya penuh kepolosan. Kali ini kukecup keningnya dengan penuh kasih sayang.

Tak lama ia sudah tenggelam ke alam mimpi. Aku menyelimuti dan membenarkan posisi tidurnya. Kuamati baik-baik wajah adik bungsuku ini, ternyata ia sudah besar. Rasanya baru kemarin ia lahir.

“Selamat tidur dek, semoga kelak kau jauh lebih hebat dari mas mu ini ya” Kataku lirih sambil mencium keningnya lagi.

Sepuluh menit berselang, aku mengikuti jejak Lentera. Tenggelam ke alam mimpi.

***

Aku terbangun ketika sesuatu menendang perutku. Menoleh ke samping dan ternyata itu kaki Lentera yang dengan mulus mendarat di perutku. Kulirik jam dinding, tepat pukul 05.00 pagi. Kuputuskan untuk segera bangkit dari tempat tidurku.

“Ayah... Bangun!! Tera tidak ada Yah, dia hilang. Bangun Ayaaah”

Sayup-sayup kudengar suara Ibu.

“Ayah bangun tho, jangan tidur terus. Ini Tera kemana? Kenapa tiba-tiba tidak ada di tempat tidur. Ayaaaah!!”

Suara Ibu semakin terdengar jelas. Maka kuputuskan untuk keluar kamar, turun menuju kamar Ibu.

“Ada apa tho Bu, panik sekali?” Tanyaku penasaran. Ayah dan Ibu ternyata sudah keluar dari kamar. Wajah Ibu terlihat sangat panik, mondar-mandir kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Sedangkan Ayah sedang duduk di kursi, wajahnya masih terlihat sangat ngantuk. Belum sempat Ibu menjawab, Bentara juga keluar dari kamarnya dengan wajah dan rambut berantakan.

“Kenapa tho Bu, pagi-pagi sudah ribut, menganggu tidurku saja” Kata Bentara sambil menguap.

“Kamu ini Ben. Ibu ini sedang panik, Tera hilang. Tadi malam dia masih tidur di samping Ibu, tapi tadi ketika bangun, dia sudah tidak ada. Dia hilang Ben” Kata Ibu panik.

“Oalah, Ibu mencari Tera tho. Dia ada di kamarku Bu”. Kataku pada Ibu.

Ibu terkejut mendengar kata-kataku, mengerutkan alis seakan tak percaya. “Apa? Kenapa dia bisa di kamarmu Biet?” Tanya Ibu.

“Tengah malam tadi, dia tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan berkata bahwa ia ingin tidur bersamaku Bu”. Jelasku pada Ibu.

Ibu terdiam, berpikir sebentar kemudian tersenyum lega. “Aahh syukurlah” Ucap Ibu sambil mengelus dada. “Maaf ya Yah, Ben, Biet. Ibu hanya khawatir tadi” Ucap Ibu tersenyum.

Ayah dan Bentara menepuk kening masing-masing. Bentara kembali masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Ayah memilih untuk segera ke kamar mandi.

“Ibu..Ibu”. kataku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lantas berpamitan dan menuju keluar rumah.

Udara pagi Temanggung menyapaku begitu pintu dibuka. “Selamat pagi kotaku, semoga hari ini banyak orang yang bahagia karenamu”. Ujarku lirih.

Kakiku mulai melangkah berlari kecil memulai aktifitas pagi ini. Jogging.

***

 Di saat yang bersamaan.
“Mas Obiet”. Lentera terbangun dari tidurnya. Membuka mata dan mendapati kakaknya tidak ada di tempat tidur. Mengucek-ngucek mata, menguap, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, memeluk boneka kesayangannya, lantas segera bangun, berdiri dan turun menuju kamar Ibu.

“Oalah cah ayu, kau ini pagi-pagi sudah buat Ibu khawatir saja. Tiba-tiba menghilang dari kamar”. Kata Ibu begitu melihat sosok Lentera di hadapannya.

Yang di khawatirkan justru memasang wajah polos tanpa dosa dengan “nyengir kuda” nya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Maaf ya bu”. Ujarnya lirih.

“Ya sudah kau lekas mandi ya, mau ikut Ibu ke pasar tidak?” Ajak Ibu.

Demi mendengar kata “Pasar”, Lentera segera meluncur bagai roket menuju kamar mandi. Hampir saja ia menabrak Ayah yang baru keluar dari kamar mandi.

“Aduh dek Tera, hati-hati. Hamper saja menabrak Ayah” Ujar Ayah.

“Maaf maaf Ayah, aku tidak sengaja” Katanya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.

Pasar memang menjadi tempat yang mengasyikkan bagi Lentera. Tidak seperti anak-anak seusianya yang enggan diajak ke pasar, Lentera justru semangat sekali jika diajak ke pasar oleh Ibu. Menurutnya, di pasar ia bisa melihat barang-barang yang bagus dan seru sekali melihat orang yang sibuk tawar menawar.

***

Kulirik jam dipergelangan tangan kiriku. Tepat pukul 07.00.

Aku mulai merasa lelah dan haus. Sempat menyesal dalam hati kenapa tadi tidak membawa air minum. Kuputuskan untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan ke rumah, aku sempat bertemu dengan beberapa tetangga. Senyum, berjabat tangan, saling bertanya kabar, dan tidak jarang ada yang meminta foto bersama. Aiih, apakah kepopuleranku sudah sampai sini. Hehehe.

***

Motor Ayah masih berada di depan pintu, sepertinya Ayah belum berangkat kerja. Aku masuk ke dalam rumah, berpapasan dengan Ayah yang hendak  keluar.

“Lho kau sudah pulang Biet?” Tanya Ayah.

“Iya Yah, aku haus” Jawabku sambil memegang tenggorokan. “Yang lain kemana Yah, sepi sekali?” Aku balik bertanya. Menuju meja makan, menuang air ke dalam gelas dan meminumnya.

“Ibu dan Tera ke pasar, sedangkan Ben masih di kamar. Mungkin masih tidur” Jawab Ayah sambil memakai sepatu di sofa. Sekilas aku menoleh ke arah kamar Ben.

“Ya sudah, Ayah berangkat dulu ya Biet. Ada yang harus Ayah selesaikan di sekolah”.

Aku mengangguk tersenyum. “Hati-hati di jalan Yah”

“Siap bos” Jawab Ayah tersenyum.  Suara mesin motor tua Ayah terdengar sebentar kemudian hilang di ujung jalan.

Aku segera bergegas menuju kamar. Sepertinya mandi adalah pilihan yang tepat setelah joging.

***

Tiga puluh menit kemudian aku telah duduk santai di depan televisi. Tentunya dengan penampilan yang rapi. Hari ini aku tidak ada rencana pergi kemana-mana. Mungkin di rumah saja. Menikmati sisa liburanku yang tinggal beberapa hari.

Tak lama kudengar pintu kamar Ben dibuka. Aku menoleh, dan benar saja Ben keluar dengan pakaian rapi juga tas yang terselempang di bahu kanannya.

“Ternyata adikku ini telah tumbuh jadi laki-laki tampan”  Ujarku dalam hati. Tetapi mana mungkin aku berkata langsung padanya. Bisa besar kepala anak ini. Hehehe.

“Kau mau kemana dek Ben?” Tanyaku begitu Bentara sampai di hadapanku.

“Aku mau ke sekolah mas, ada janji sama teman-temanku. Kami mau main” Jawabnya.

“Kau sudah izin dengan Ibu atau Ayah?” Tanyaku menyelidik.

“Tenang mas, aku sudah izin kok” Jawabnya nyengir.

Tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk mengantarkannya. “Kau mau aku antar dek?”

“Mengantarku? Mas Obiet serius tho?” Tanyanya seakan tak percaya.

“Iya, itu pun kalau kau mau” Jawabku singkat.

“Ya mau sekali tho. Asiiiik....matur nuwun lho mas” Kata Ben cengar-cengir.

Aku bangkit dari sofa, mengambil kunci mobil di laci meja. Kemudian keluar rumah, menyusul Bentara yang sudah lebih dulu nangkring di depan mobil Ayah.

***

“Mas Obiet kapan kembali ke Malaysia?” Tanya Ben membuka obrolan di dalam mobil.

“Hari sabtu ini dek” Jawabku singkat.

“Kenapa cepat sekali mas, baru kemarin lusa mas Obiet datang, masa sudah mau kembali lagi?” Tanyanya lagi.

“Iya dek, banyak perkerjaan yang sudah menungguku di sana” Jawabku sambil terus menyetir.

“Hmm, kalau aku bisa seperti mas Obiet pasti menyenangkan ya, tinggal di luar negeri, terus punya banyak fans, dan bisa keliling dunia pula. Ah, aku ingin sekali seperti mas Obiet” Kata Ben dengan gaya tengil nya.

“Jangan mau seperti mas mu ini dek” Ujarku lirih.

“Lho kenapa mas?” Tanya Ben menoleh ke arahku. Penasaran.

“Kau itu justru harus lebih hebat dariku dek, kau harus melangkah lebih jauh, bermimpi lebih tinggi dan berusaha lebih keras dariku” Jawabku. “Kau harus lebih membanggakan Ayah dan Ibu dari pada aku dek” Aku menoleh tersenyum ke arah Bentara.

Bentara terdiam. Entah apa yang dipikirkan anak ini. Aku tetap fokus menatap ke jalan di depanku, melajukan mobil ke arah sekolahnya.

“Aku rindu mas Obiet” Kata Bentara pelan. Pelan sekali. Hampir tidak terdengar di telingaku.

“Kenapa dek?” Tanyaku lagi. Menoleh ke arah Ben, ingin memastikan apa yang diucapkan Ben tadi.

“Ah tidak, tidak ada apa-apa mas” Jawab Ben gelagapan, cengar cengir melihatku. “Oh iya, nanti kalau mas Obiet kembali lagi ke sini, mas Obiet jadi produser saja, nanti aku yang jadi artisnya. Waah, pasti seru, dan yang pasti fansku akan lebih banyak dari mas Obiet. Aku kan ganteng tho” Kata Bentara ngelantur.

Aku hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan Bentara. Kemudian mengacak-ngacak rambutnya yang basah oleh gel rambut.

“Aduh..rambutku berantakan mas” Keluh Bentara.

Aku tertawa melihat Ben yang sibuk merapihkan rambut lepeknya.

***

Selesai mengantar Ben sampai sekolah, aku langsung pulang ke rumah. Sampai depan rumah motor Ibu sudah terparkir rapi. Sepertinya Ibu dan Lentera sudah pulang. Mobil kuparkir, lalu masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, kudapati Lentera sedang duduk di sofa dengan wajah cemberut. Sedikit penasaran, kuhampiri adik bungsuku itu.

“Kenapa tho dek? Kok wajahmu cemberut begitu?” Tanyaku lembut.

Lentera menoleh sekilas ke arahku, bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkanku yang penuh dengan rasa ingin tahu. Sedikit bingung dan penasaran, kuhampiri Ibu yang sedang memasak di dapur.

“Bu, ada apa dengan Tera? Kenapa wajahnya cemberut begitu tho Bu?” Tanyaku pada Ibu.

“Itu loh Biet, tadi di pasar adikmu itu minta dibelikan tas. Tetapi Ibu tidak membawa uang lebih, yang Ibu bawa hanya cukup untuk membeli sayuran. Kalau Ibu turuti, bisa jadi kita tidak makan hari ini” Jelas Ibu sedih. Berpikir sebentar, kemudian berkata lagi. “Lagipula, Ibu tidak ingin Tera jadi anak yang manja Biet. Apa-apa yang dia mau harus dituruti. Ibu ingin dia tahu, kalau dia menginginkan sesuatu itu ya harus berusaha” Kata Ibu sambil terus memasak.

“Hmm begitu. Mungkin karena Tera anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya ya Bu, jadi sifatnya sedikit lebih manja dari aku dan Ben?” Tanyaku.

“Ya, bisa jadi seperti itu Biet” Jawab Ibu.

“Ya sudah, biar aku yang bicara padanya ya Bu”

Ibu mengangguk “Iya Biet, coba kau nasehati adikmu ya”

Aku tersenyum mengangguk. Kemudian melangkah menuju kamar tidur Ibu. Pintu kamar terbuka. Kulirik sebentar, ternyata Tera sedang tidur diatas ranjang, dengan badan yang menghadap ke dinding. Perlahan kuketuk pintu, Tera menoleh kemudian kembali ke posisi awal. Menghadap ke dinding.

“Boleh mas Obiet masuk dek?” Tanyaku dengan nada lembut. Tera tetap pada posisinya, kali ini ia tidak menoleh, juga tidak menjawab.

Aku pun melangkah menuju tempat tidur. Perlahan kududuk di samping adik bungsuku itu. Tera tetap pada posisinya.

“Mas Obiet tahu, kau pasti kecewa karena tidak dibelikan tas oleh Ibu kan?” Tanyaku. Tera tetap tidak menjawab.

“Kau tahu dek, dulu sewaktu mas Obiet kecil, kehidupan Ayah dan Ibu sangat pas-pasan. Uang yang Ayah punya hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Untuk makan dan untuk biaya sekolah mas Obiet”. Tera menoleh sekilas ke arahku, kemudian kembali menghadap dinding.

Aku tersenyum simpul. “Pernah suatu hari, mas Obiet sedang bermain dengan teman-teman di depan rumah. Lalu tak lama ada penjual es krim yang lewat. Saat itu, semua teman-teman mas membeli es krim itu. Sebenarnya mas pun ingin sekali membeli, tetapi sayang saat itu mas tidak punya uang” Ujarku lirih. Aku terdiam sesaat. Entah kenapa, terkadang jika mengingat kejadian di masa kecil dulu membuat hatiku sesak.

Tera membalikkan badannya menghadap ke arahku. “Lalu?” Sepertinya dia mulai tertarik dengan ceritaku.

Kubelai lembut rambut adik kesayanganku itu. “Lalu, saat semua teman mas membeli es krim itu, mas Obiet masuk ke dalam rumah, kemudian mengunci pintu rapat-rapat. Kalau penjual es krimnya sudah pergi, baru mas Obiet keluar dan bermain lagi dengan teman-teman mas” Jawabku tersenyum.

“Kenapa mas Obiet tidak meminta uang pada Ibu untuk membeli es krim itu?” Tanya Tera penasaran.

“Tidak, karena sebelumnya Ibu mengatakan bahwa uang yang Ibu punya hanya cukup untuk biaya hidup kita sehari-hari. Jadi harus berhemat. Kalau mas Obiet meminta uang Ibu untuk membeli es krim, maka bisa dipastikan hari itu kita semua tidak bisa makan”

Tera terlihat berpikir sesaat, kemudian bertanya lagi “Lalu kalau mas Obiet menginginkan sesuatu bagaimana?”

“Kalau mas menginginkan sesuatu, mas Obiet harus menabung dulu dari uang jajan yang diberikan Ayah dan Ibu. Pernah suatu hari, mas menginginkan sebuah bola, hmm saat itu harga bola hanya lima ribu dek. Tetapi mas Obiet tahu bahwa uang yang Ayah dan Ibu punya hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Karena itu, mas menyisihkan sebagian uang jajan mas untuk ditabung. Kalau uangnya sudah cukup, baru mas belikan bola. Begitu dek” Jelasku.

Tera terdiam lagi. Kali ini cukup lama. Kubelai kembali rambut adik bungsuku ini.

“Dek Tera sayang, mas Obiet tahu, kau sangat menginginkan tas yang kau lihat di pasar tadi kan. Tetapi seberapa besar pun keinginanmu untuk memiliki tas itu, jangan sampai kau memaksakan kehendakmu pada orang lain dek, apalagi pada Ayah dan Ibu” Ujarku lembut. Tera menoleh menatap wajahku. “Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha sendiri. Jangan sampai kau menyusahkan orang lain. Kau tahu dek, sesuatu yang kita dapatkan dengan usaha sendiri itu jauh lebih membahagiakan dibanding jika kau dapatkan dengan menyusahkan orang lain” Ujarku tersenyum.

“Tetapi....kalau tas yang kuinginkan itu sudah tidak ada lagi bagaimana mas?”Tanya Tera.

“Itu artinya akan ada tas yang lebih bagus lagi yang sedang menantimu dek” Jawabku.

“Benar begitu mas?” Tanya Tera lagi.

Aku mengangguk tersenyum. Tera terdiam sesaat. Kemudian tersenyum memelukku.

 ***

Pukul sembilan malam. Aku terbangun dari tidur.

Sepertinya aku tertidur sejak sore tadi. Kupegang perutku. Sepertinya cacing-cacing di perutku sudah meminta jatah makanan. Kuputuskan untuk keluar kamar menuju dapur, berharap masih ada makanan yang bisa kumakan. Kuturuni anak tangga. Belum sampai ke dapur, aku mendengar seperti ada yang sedang berbincang. Kuintip, ternyata ada Tera dan Ibu di meja makan. Terlihat Tera sedang memegang tangan Ibu.

“Maafkan aku ya Bu, tadi pagi sudah membuat Ibu sedih. Aku sudah memaksa Ibu untuk membelikan tas itu, padahal uang Ibu tidak cukup. Ibu tidak marah kan padaku?” Kata Tera dengan berlinang air mata.

Ibu terlihat tersenyum sambil membelai lembut rambut Tera. “Cah ayu, Ibu tidak marah padamu. Ibu pun telah memaafkanmu sayang. Tidak apa-apa” Jawab Ibu tersenyum. “Tetapi, Ibu hanya pesan, kalau kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Karena tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan dengan mudah sayang”. Ibu membelai lembut rambut Tera.

Dari balik dinding, aku tersenyum. Ternyata apa yang aku sampaikan tadi siang, bisa dicerna dengan baik oleh adik perempuanku itu. Aah, aku bangga sekali padanya.

“Mas Obiet sedang apa tho?” Suara seseorang yang sangat kukenal mengagetkanku.

“Duh Ben, kau mengagetkanku saja”

“Maaf mas, memangnya sedang apa tho?” Tanya Ben lagi.

Aku menunjuk ke meja makan. Ben melihat ke arah yg aku tunjuk.

“Sedang apa dek Tera?” Tanya Ben lagi lagi.

“Sedang minta maaf”Jawabku singkat.

Ben menggaruk-garuk kepala tanda bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang sedang dilihatnya. Aku sengaja membiarkannya tenggelam dalam kebingungan. Aku kembali memfokuskan mataku ke arah Ibu dan Tera. Tampak Ibu sedang memeluk Tera dengan penuh kasih sayang.

“Ah aku bingung, lebih baik aku tidur” Kata Ben yang langsung melangkah pergi menuju kamarnya. Aku hanya tersenyum geli melihat Ben yang kebingungan. Sedangkan aku melangkah menuju meja makan.

“Bu, masih ada makanan tidak? Aku lapar” Kataku tiba-tiba, yang tentu saja mengagetkan Ibu dan Tera. Ibu melepaskan pelukannya. Sedangkan Tera begitu melihatku langsung memelukku erat sekali.

“Terima kasih mas Obiet” Katanya penuh semangat. Aku mengerti maksud dari kata “terima kasih” itu.

 “Sama-sama dek Tera sayang. Mas bangga padamu” Kataku membelai rambutnya. Aku melirik ke arah Ibu.

Ibu tersenyum padaku. Arti senyuman itu adalah “Terima kasih”.

***

Pagi kembali datang. Sang mentari mengucap salam melalui celah jendela kamarku.

Dan itu berarti hari liburanku di rumah ini berkurang lagi. Setelah ini, aku akan kembali disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan yang menyita waktuku. Beberapa menit lalu, managerku di Malaysia sudah menelepon, menanyakan kapan aku akan kembali ke sana. Rasanya kalau sudah berada di rumah ini, aku tidak ingin kemana-mana lagi. Walaupun sederhana, tetapi ini adalah rumah tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan dididik dengan penuh kasih sayang. Memikirkan bahwa beberapa hari lagi aku akan kembali kepada rutinitasku saja sudah membuat hatiku gundah. Ah, lebih baik aku nikmati saja liburan ini.

Aku melangkah keluar kamar. Turun ke bawah. Tujuanku adalah menuju ruang televisi. Mungkin menonton film akan membuat hatiku membaik.

Ketika melewati kamar Bentara yang terbuka, kulirik sekilas, sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya.

“Sedang apa anak itu? Serius sekali” Kataku dalam hati.

 Sedikit penasaran, kumasuki kamarnya.

“Kau sedang apa dek?” Tanyaku tiba-tiba.

Bentara menoleh dan kaget bukan main dengan kehadiranku.”Mmmaa..maa..maaas Obiet, aaa..aaa..aakuu, aa..aanu” Kata Bentara gelagapan. Dengan cepat dia membereskan barang-barang yang ada di meja belajarnya.

Aku mengernyitkan dahi bingung melihat Bentara gelagapan seperti itu.

Kenapa dia sampai kaget seperti itu? padahal kan aku hanya bertanya saja”  Pikirku dalam hati.

“Kau ini kenapa dek Ben, gelagapan seperti itu? Aku kan hanya bertanya. Hmm, jangan-jangan kau sedang menyembunyikan sesuatu ya. Hayooo?” Tanyaku dengan pandangan menyelidik.

“Aah mas Obiet ini ingin tahu saja urusanku” Jawab Bentara. Tak lama dia membalikkan tubuhku dan mendorongku sampai ke pintu. “Maaf ya mas, aku sedang sibuk. Tak bisa diganggu” Kata Bentara dengan wajah tengilnya.

“Aah, kau ini gaya sekali” Ujarku.

Bentara justru tertawa puas setelah berhasil membuatku keluar dari kamarnya. Tak lama ia malah menutup pintu. “Fuuuuhh, hampir saja” Ujarnya lirih dari balik pintu. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaanya.

Aku kembali melangkah pada tujuanku, menonton film.

***

Film yang ku tonton telah selesai lima menit yang lalu. Tadinya aku hendak kembali ke kamar, tetapi tertahan dengan kehadiran Ayah yang langsung duduk di sampingku.

“Ayah dari mana?” Tanyaku pada Ayah.

“Habis dari rumah Bude Biet” Jawab Ayah.

Aku mengangguk.

“Kapan kau kembali ke Malaysia Biet?” Tanya Ayah tiba-tiba.

“Hari sabtu Yah” Jawabku singkat.

“Dua hari lagi, dan mungkin akan butuh waktu lama ya Biet sampai kau pulang lagi ke rumah ini?” Tanya Ayah. Kulirik wajah Ayah, sekilas terlihat kesedihan di matanya.

“Aku pasti pulang Ayah.” Kataku membesarkan hati Ayah.

Ayah menoleh ke arahku, tersenyum kemudian memegang bahuku. “Yah, kau pasti pulang Biet. Ayah percaya itu. Sejauh apapun kau melangkah, pada akhirnya nanti kau pasti akan kembali ke rumah ini” Kata Ayah tersenyum.

Aku mengangguk sebagai tanda menyetujui kalimat Ayah. 

Tak lama berselang, Ibu datang menghampiriku dan Ayah sambil membawa sesuatu di tangannya.

“Ayah, Ibu menemukan ini di kamar. Dicari kemana-mana ternyata ada di tumpukkan buku di lemari” Kata Ibu sambil menyodorkan benda itu pada Ayah. Kemudian ikut duduk di sampingku.

“Apa itu?” Tanyaku.

Ayah memberikan benda itu padaku. Itu sebuah CD. Setelah kubuka, ternyata itu adalah CD dari album soloku dulu. Aku tersenyum melihatnya. Menatap wajah Ayah dan Ibu bergantian.

“Sebelum kau pulang kemarin, Ayahmu mencari-cari CD ini Biet, katanya rindu ingin mendengar suara kecilmu dulu. Setelah dicari-cari tidak ketemu juga, ternyata ada di tumpukkan buku” Ibu menjelaskan padaku. Kulirik Ayah yang hanya tersenyum.

“Selamat siaaaaaang, aku pulang” Seseorang masuk ke dalam rumah dengan suara khasnya. Siapa lagi kalau bukan Lentera. Kami bertiga menoleh ke arah asal suara.

“Ayah, Ibu dan mas Obiet sedang apa?” Tanya lentera yang langsung duduk di pangkuan Ayah.

“Sedang menunggumu pulang dek Tera” Jawab Ayah sambil mencium kepala Tera.

“Kan sekarang aku sudah pulang Yah” Ujarnya. Ayah hanya tersenyum.

Tak lama berselang, tampak Bentara keluar dari kamarnya. Sepertinya tugas yang ia kerjakan tadi sudah selesai. Melangkah menuju meja makan, menuang air ke dalam gelas dan meminumnya.

Kemudian Bentara pun ikut bergabung bersama kami. Duduk di sebelah Ayah. Dan dengan jahil mengacak-acak rambut Lentera.

“Aaah mas Ben jahil. Nanti rambutku berantakan ini” Keluh Tera sambil memonyongkan bibirnya. Bentara pun tak kalah ikut memonyongkan bibirnya ke arah Tera. Jadilah dua anak itu seperti ikan mas koki.

Kami hanya tertawa melihat tingkah mereka.

“Coba di putar Biet CD nya, masih bagus atau tidak”Kata Ibu memberi saran.

“Baik Bu” Jawabku.

Aku beranjak dari tempat dudukku, memasangkan CD ke dalam DVD Player. Kemudian kembali ke posisiku. Tak lama, terdengar alunan musik dari CD yang ku pasang. Ternyata kualitas suaranya masih bagus. Lalu mulai terdengar suara penyanyi cilik menyanyikan lagu berjudul “Tulus”, dia tidak lain adalah diriku sendiri. Mendengar suaraku di masa kecil membuatku senyum-senyum sendiri.

“Suara mas Obiet waktu kecil dulu bagus ya” Celetuk Tera.

“Iya bagus, memangnya suaramu, cempreng” Kata Bentara menggoda.

“Aaaahh mas Ben” Keluh Tera sambil mencubit lengan Bentara. Bentara tampak memegang lengannya yang kesakitan. Ayah yang sedang memangku Tera segera melerai keduanya.

“Sudah mas Ben, kau ini mengganggu adikmu saja dari tadi” Kata Ayah.

Yang diperingati justru hanya senyum-senyum. Aku pun ikut tersenyum melihat keduanya. Dua anak ini memang selalu bertengkar. Tetapi aku tahu, dalam hati keduanya, mereka saling menyayangi.

“Sudah sudah, kalau kalian ribut terus, jadi tidak terdengar suara CD nya ini” Kata Ibu.

Kalau Ibu sudah bicara, keduanya langsung diam. Ibu memang hebat. Kami kembali fokus mendengarkan alunan suara masa kecilku itu.

“Mas Obiet sambil menyanyi juga tho” Pinta Tera.

“Iya betul” Bentara mengiyakan pinta Tera. Kali ini mereka kompak memintaku menyanyi.

“Baiklah” Jawabku.

Engkaulah yang menjagaku
Ketika tubuh ini lemah
Dan kan selalu setia
Berada di sampingku, tak pernah jauh
Kau berikan semua kasih sayang
Dan cinta yang tulus
Tulus kepadaku
Sungguh besar, pengorbanan itu
Sehingga tak bisa kumelupakannya

Aku terdiam sesaat. Sedikit lupa lanjutan liriknya.

Tiba-tiba suara Bentara melanjutkan nyanyianku.

Tak pernah kau mengeluh
Untuk selalu bersamaku
Tanpa merasa lelah dan penuh kesabaran
Juga perhatian.....

Ingatanku akan lagu ini muncul kembali. Akhirnya aku bernyanyi bersama Bentara, yang kemudian disusul suara Ibu, Ayah dan suara khas Lentera.

Kau berikan semua kasih sayang
Dan cinta yang tulus
Tulus kepadaku
Sungguh besar, pengorbanan itu
Sehingga tak bisa kumelupakannya..aa..aaa

Hari ini aku bahagia. Sangat bahagia. Bisa melewati hari bersama orang-orang terkasih.

“Ayah, Ibu, dek Ben, dek Tera. Kalianlah alasanku untuk bertahan di negeri seberang. Semua yang kucapai hari ini, sejatinya adalah milik kalian. Aku sangat menyayangi kalian. Tuhan, terima kasih telah memberiku keluarga yang hebat ini”  Ujarku dalam hati.

“Ayah, Ibu, bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan. Sebentar lagi kan mas Obiet akan kembali ke Malaysia” Tiba-tiba Bentara memberi ide.

“Iya ya, bagaimana Ayah?” Ibu balik bertanya pada Ayah.

Ayah berpikir sesaat. “Boleh juga, ide bagus. Baiklah kalau begitu besok kita pergi jalan-jalan” Ajak Ayah penuh semangat. Sontak Lentera dan Bentara bersorak senang.

***

Pagi kembali datang menyapaku.

Hari ini sangat spesial. Kenapa spesial? Karena sesuai rencana, kami akan pergi jalan-jalan. Kemana tujuannya pun aku belum tahu. Tak penting bagiku, asal bersama orang-orang yang kusayang, kemana pun aku akan merasa sangat bahagia.

Tok tok tok

“Mas Obieeeeettt, sudah siap belum?” Suara seseorang memanggilku dari luar pintu kamarku. Siapa lagi kalau bukan adik bungsuku.

Kubuka pintu kamar. Tampak Lentera yang sudah berpakaian rapi dan rambut yang dikuncir kuda. Cantik sekali.

“Lho kok mas obiet belum siap?” Tanya Tera .

“Mas hanya tinggal ganti baju dek, kau tunggu saja di bawah ya. Sepuluh menit lagi mas Obiet turun”.

“Oke baiklah. Jangan lama-lama ya mas” Pintanya.

Aku mengangkat ibu jari tanda setuju. Segera kembali ke kamar dan berganti baju. Ketika hendak keluar kamar, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan sesuatu dari meja. Sebuah buku. Kuambil buku itu, kemudian ku balik.

Jleb!

Mendadak jantungku berdebar cepat melihat buku itu. Sesak merasuki dadaku. Kelu menyelimuti lidahku.

Di halaman pertama buku itu, terlihat barisan kalimat yang tertata rapi. Penuh makna. Di halaman kedua tersusun foto-fotoku di waktu kecil. Buku ini dibuat oleh mereka yang menyayangiku. Kakak-kakak d’Bieterz.

Rasa rindu itu kembali menyelimuti hatiku. Ah, aku sangat meridukan mereka. Tanpa terasa, sudut  mataku kembali basah.

“Biet, kau sudah si...” Tiba-tiba Ayah masuk ke kamarku. Kalimatnya terhenti ketika melihatku berdiri mematung memegang sebuah buku. “Kau kenapa Biet?” Tanya Ayah.

Aku kaget bukan main dengan kehadiran Ayah, dengan segera aku mengusap mataku yang basah. Dan dengan tenang menjawab pertanyaan Ayah.

“ Aku tidak apa-apa Yah” Jawabku singkat.

“Apa itu yang kau pegang” Tanya Ayah menyelidik tanganku. Kemudian mengambilnya tanpa bisa aku cegah.

Ayah tersenyum setelah melihat isi dari buku itu. “Ayah tahu perasaanmu Biet. Dan mereka pun pasti merasakan apa yang kau rasa saat ini” Kata Ayah sambil memegang bahuku.

Aku tersenyum simpul. Ayah kembali meletakkan buku itu di atas mejaku.

“Ayo kita bergegas, semua telah menunggu di bawah” Ajak Ayah. Aku mengikuti langkah kaki Ayah di belakang.

***

Pukul sembilan lebih lima belas menit kami sampai di tempat tujuan.

Ternyata Ayah mengajak kami ke Wisata Alam Posong. Sejauh mata memandang, hamparan lahan pertanian penduduk yang terlihat. Gunung-gunung berbaris rapi mengelilingi. Wisata Alam Posong ini memang berada di sekitar lahan pertanian penduduk di lereng gunung Sindoro. Indah sekali.

Kami turun dari mobil dan mencari tempat yang nyaman untuk bersantai. Ternyata Ibu tak lupa membawa makanan untuk kami. Ibu memang luar biasa.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan liburan seperti ini” Ujarku lirih pada Ayah dan Ibu.

“Di sana kau pasti bekerja terus ya Biet, sampai tidak sempat berlibur” Kata Ibu menggodaku sambil terus mengeluarkan bekal yang dibawa.

Aku tersenyum menatap Ibu.

“Kapan terakhir kali kau ke sini Biet?” Kali ini Ayah yang bertanya padaku.

Aku terdiam. Mencoba mengingat kapan terakhir kali aku ke sini.

“Sudah lama sekali Yah” Jawabku singkat, menoleh pada Ayah.

Kualihkan pandanganku ke arah Ben dan Tera yang tengah asik berfoto-foto, sambil sesekali saling menjahili tentunya. Mereka terlihat asik sekali.

Tetapi tiba-tiba Tera berlari ke arah kami.

“Ayah, Ibu, mas Obiet, senyuuuuuuumm” Kata Tera sambil memotret kami tiba-tiba.

“Duh dek Tera, Ibu belum siap. Ulangi lagi tho” Pinta Ibu.

“Iya iya Bu” Jawab Tera cengar-cengir. Kali ini aku, Ibu dan Ayah berpose lebih baik dari yang tadi.

Tera kembali berlari ke arah Bentara yang tengah asik ber-selfie ria di tengah hamparan kebun. Melihat mereka berdua, rasanya aku ingin kembali ke masa-masa kecilku dulu. Masa-masa dimana aku bisa selalu dekat dengan keluarga, bermain dengan teman-teman. Tidak seperti sekarang, yang hanya disibukkan dengan kerja, kerja, kerja.

“Aahh, apa yang aku pikirkan. Aku tidak boleh mengeluh” Pikirku dalam hati.

“Ayah, Ibu, mas Obiet kenapa hanya duduk di sini saja. Ayo kita foto-foto di sana” Ajak Bentara yang tiba-tiba hadir di hadapan kami sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

“Lebih baik sekarang kita makan dulu Ben, tadi kan belum sempat sarapan di rumah” Kata Ibu. Bentara menuruti kata-kata Ibu, segera duduk di sampingku. “Dek Tera, ayo makan dulu” Seru Ibu memanggil Tera. Tera segera berlari ke arah kami dan duduk di samping Ibu.

Sarapan pagi ini terasa berbeda. Nikmat sekali. Selain bersama dengan keluarga tercinta, sarapan pagi ini ditemani dengan pemandangan alam Indonesia yang sangat indah. Kami menikmati bekal yang dibawa Ibu sambil sesekali diselingi dengan obrolan dan candaan ringan.

Tetapi di sisi lain hatiku terselip sebuah kesedihan. Kesedihan yang mengingatkanku bahwa esok lusa aku tidak dapat berada di tengah-tengah mereka lagi. Aku tidak dapat melihat senyum-senyum tulus ini lagi dan tidak bisa merasakan semua kehangatan yang ada di dalamnya. Ah, memikirkannya saja sudah membuat dadaku sesak.

Ternyata tanpa aku sadari, saat itu, ada seseorang yang sedang memperhatikanku dan ikut merasakan kesedihan yang berkecamuk di dalam hati ini. Seseorang yang teramat sangat menyayangiku.


***

Malam ini udara terasa dingin sekali.

Aku sudah hampir terlelap ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. Tok tok tok..

“Silahkan masuk” Jawabku dari atas tempat tidur. Aku tetap dalam posisi berbaring.

Pintu terbuka perlahan, dan seseorang yang amat kukenal muncul dari balik pintu. Bentara.

“Mas Obiet sudah mau tidur ya?” Tanya Ben polos.

“Ah anak ini basa basi sekali. Apakah dia tidak lihat aku telah siap pada posisi tidur” Kataku dalam hati.

“Menurutmu dek?” Aku balik bertanya.

“Iya maaf mas, aku hanya ingin mengobrol sebentar” Jawab Bentara cengar-cengir yang langsung duduk di tepi ranjangku. Ia membiarkan pintu kamarku terbuka.

“Ada apa tho dek? Tumben sekali kau ingin mengobrol denganku?” Tanyaku penasaran.

Bentara justru menunduk dalam diam. Beberapa saat. Kemudian menatap mataku, dalam sekali. Dan aku semakin penasaran sekaligus tidak mengerti maksud dari tatapan Bentara. Cukup lama ia menatapku hingga akhirnya dia membuka suaranya.

“Aku bisa merasakan apa yang sedang mas Obiet rasakan saat ini” Kata Ben dengan wajah serius.

Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti maksud dari kata-kata Bentara.

“Aku tahu, saat ini mas Obiet pasti sedang sedih, karena lusa mas Obiet sudah harus kembali ke Malaysia” Lanjut Bentara. “Pasti berat rasanya untuk meninggalkan rumah ini kan mas?” Tanya Bentara padaku.

Aku memandang Bentara dengan ekspresi penasaran. “Dari mana kau tahu dek?” Tanyaku.

Bentara tersenyum simpul kemudian berkata “Aku ini adikmu mas. Aku juga bisa merasakan kesedihanmu. Sepanjang siang tadi, aku lihat mata mas Obiet penuh dengan kesedihan. Walau mas selalu tersenyum, tetapi mata mas Obiet tidak bisa membohongiku” Kata Bentara sambil menggelengkan kepalanya.

Aku menunduk sesaat. Baiklah, mungkin berbagi cerita dengan Bentara bisa sedikit mengurangi kesedihanku.

“Ya, aku memang sedih dek. Mengingat esok lusa aku sudah tidak bisa tidur di ranjang ini lagi, tidak bisa makan masakan Ibu lagi, tidak bisa melihat kau dan Tera bercanda lagi, tidak bisa berkeluh kesah pada Ayah lagi. Dan tidak bisa merasakan kehangatan keluarga ini lagi. Ya, kau benar dek, sangat benar, aku memang sedih” Jawabku dengan mata yang sedikit berlinang.

Bentara terdiam memandangku.

“Terkadang aku iri padamu. Kau bisa setiap hari berada di rumah ini dan merasakan kehangatannya setiap saat. Sedangkan aku? Aku tidak bisa seperti itu dek. Waktuku sangat terbatas, bahkan di rumahku sendiri” Kali ini air mataku benar-benar keluar. Aku segera menghapusnya.

Kami terdiam sejenak.

“Mas Obiet tahu tidak?” Tanya Bentara yang membuatku mengangkat kepala menatapnya. “Justru aku yang terkadang iri melihatmu mas. Dulu waktu mas Obiet seusiaku saat ini, mas Obiet telah mendapatkan segalanya. Mas sudah punya album Internasional, punya banyak fans, dan saat itu mas telah berani mengambil keputusan yang besar untuk karir mas Obiet. Mas berani berhijrah ke luar negeri, seorang diri demi meraih impian. Sedangkan aku? Lihatlah mas, aku hanya seorang pelajar SMA biasa” Kata Bentara tegas. Menunduk sesaat. “Mas Obiet itu hebat, sangat hebat. Dan kau tahu mas, aku sangat bangga memiliki kakak seperti mas Obiet. Aku bangga memiliki kakak yang bisa menjadi inspirasi banyak orang. Aku bangga memiliki kakak yang selalu optimis dan penuh semangat dalam meraih impiannya. Aku bangga memiliki kakak yang tidak pernah mengeluh dalam kondisi selelah apapun.  Aku bangga memilikimu mas” Kalimat Bentara terputus, tampak matanya berkaca-kaca. Kemudian menunduk lagi.

Deg !

Jantungku berdegup kencang demi mendengar apa yang diucapkan Bentara. Lidahku kelu. Tak mampu bicara apa-apa. Tak kusangka, adik yang selama ini terlihat cuek, jahil, dan semaunya sendiri, malam ini mampu mengeluarkan kata-kata yang membuat hatiku luluh. Dari kata-katanya aku tahu dia begitu menyayangiku. Teramat sangat menyayangiku.

Tanganku meraih bahu Bentara. Kupeluk sangat erat adik laki-lakiku ini. Dia pun membalas pelukanku. Entah kapan terakhir kali aku memeluknya. Mungkin sudah lama sekali.

Tak lama aku melepaskan pelukanku. “Terima kasih karena kau telah mendobrak semangatku lagi dek. Aku janji padamu, aku tidak akan pernah mengeluh lagi. Aku akan melalui setiap detik hidupku dengan penuh semangat” Kataku pada Bentara.

Bentara tersenyum padaku “Memang seharusnya seperti itu mas” Jawabnya.

“Hmm, aku boleh meminta sesuatu padamu dek?” Tanyaku

“Apa itu mas?” Tanyanya.

“Selama aku tidak ada di rumah ini. Maukah kau berjanji padaku untuk menjaga Ayah, Ibu dan dek Tera? Lindungi mereka dari apapun yang bisa menyakitinya. Jangan biarkan mereka sedih. Buatlah mereka selalu tersenyum. Kau bisa janji padaku?” Tanyaku pada Bentara.

Tanpa pikir panjang, dengan mantap dia menjawab “Pasti mas, aku pasti akan selalu menjaga Ayah, Ibu dan dek Tera. Tak akan kubiarkan mereka bersedih. Aku janji mas. Percayalah” Ujarnya.

Aku tersenyum. “Ya, aku percaya padamu dek” Kataku sambil memeluknya lagi.

Adik laki-lakiku ini telah tumbuh menjadi dewasa dan dapat diandalkan. Malam ini kamarku telah menjadi saksi akan kasih sayang kami. Jarak yang jauh tidak mengurangi besarnya kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya. Aku bahagia, sangat bahagia.

Dan ternyata di balik dinding di luar kamarku, tengah berdiri seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Bentara. Tampak air mata mengalir di pipinya dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya. Sepertinya, kebahagiaan juga hinggap dihatinya malam ini.

***
“Ibu dari mana?” Tanya Ayah pada Ibu yang baru saja masuk ke kamar.

Ibu tersenyum menghampiri Ayah yang sedang duduk di tepi ranjang. Kemudian ikut duduk di samping Ayah.

“Anak laki-laki Ayah sekarang sudah semakin dewasa” Kata Ibu tersenyum pada Ayah.

“Siapa Bu? Obiet atau Bentara?” Tanya Ayah penasaran.

Ibu hanya menjawab dengan senyuman, kemudian segera naik ke atas tempat tidur. Membiarkan rasa penasaran Ayah bergejolak. Sedangkan Ayah hanya terpaku penuh tanya menatap Ibu.

***

Pagi kembali menyapaku. Hari ini, entah kenapa hatiku terasa damai sekali. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu aku lewati dengan kegalauan. Walaupun ini adalah hari terakhir liburanku, aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat di hatiku. Apa mungkin karena kejadian semalam. Hmm, entahlah.

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 05.30 pagi. Menoleh ke samping kiriku, kosong. Bentara sudah tidak ada di tempat tidurku. “mungkin dia sudah bangun” pikirku.

Kuangkat badanku dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi.

Satu jam kemudian aku keluar kamar, turun menuju meja makan untuk sarapan. Ternyata, di sana sudah ada Ayah yang sedang membaca koran, Lentera yang sedang mengoles roti tawar dengan selai strawberry kesukaannya, dan ada Bentara yang sedang asyik menjahili Lentera dengan memakan roti yang sudah diolesi selai. Spontan saja Lentera ngambek dibuatnya.

“Aaah Ayah mas Ben ini loh, memakan rotiku seenaknya. Kalau mau buat sendiri tho” Ujar Tera kesal.

“Memang enak kok dek” Jawab Bentara dengan mulut penuh roti.

Ayah melerai keduanya “Ben, pagi-pagi sudah mengganggu adikmu saja” Kata Ayah sambil melipat korannya.

Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Melihat kelakuan Bentara pagi ini, rasanya aku tidak percaya semalam dia bisa berubah menjadi laki-laki yang begitu dewasa.

Aku melangkah dan duduk di salah satu kursi di sebelah Lentera, yang langsung mengadu tentang kejahilan Bentara padanya. Padahal tanpa dia cerita pun aku sudah melihatnya sejak tadi.

“Hari ini apa rencanamu Biet?” Tanya Ayah padaku.

Aku menoleh kepadanya dan menggelengkan kepala “Belum tahu Yah, mungkin akan kuhabiskan liburan terakhirku ini di rumah. Bermain bersama adikku ini” Jawabku sambil membelai rambut Lentera. Tentu saja Lentera langsung tersenyum.

“Wah asyik, nanti mas Obiet temani aku main barbie ya” Kata Lentera dengan penuh semangat.

Bentara menyambar “Kau ini, masa mas Obiet kau ajak main barbie”.

“Memang kenapa? mas Obietnya saja mau kok, iya tho mas?” Kata Lentera sambil sambil menoleh ke arahku. Aku tersenyum mengangguk.

Melihat anggukan kepalaku, Lentera lantas menjulurkan lidahnya ke arah Bentara. Yang dibalas juga oleh Bentara dengan memonyongkan mulutnya.

“Sudah sudah, dua anak ini selalu saja bertengkar” Ayah melerai keduanya. “Lantas kau sendiri, apa rencanamu hari ini Ben?” Tanya Ayah pada Bentara.

Bentara terdiam sesaat, matanya seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian menjawab “Tidak ada, aku juga mau di rumah saja Yah”.

“Loh, bukannya kau bilang mau pergi dengan teman-temanmu Ben? Tadi malam sudah izin pada Ibu tho” Kata Ibu yang tiba-tiba datang dari dapur dengan membawa mangkuk besar berisi sayur yang kemudian diletakkan di atas meja.

“Tidak jadi Bu. Tiba-tiba aku malas, ingin di rumah saja hari ini. Lagipula perginya bisa besok-besok” Jawab Bentara. Menoleh ke arahku sesaat kemudian mengalihkan dengan manjahili Lentera lagi.

Aku tersenyum simpul.

“Ahhh mas Ben” Lentera berteriak lagi pada Bentara. Tampaknya ia benar-benar kesal. Terang saja,  kali ini Bentara menghabiskan semua roti yang sudah diolesi Lentera.

***

“Mas Obiet, aku boleh tanya sesuatu tidak?” Lentera tiba-tiba bertanya di sela kesibukannya bermain barbie.

Aku yang tengah menemaninya bermain barbie spontan menoleh dan menjawab “Mau tanya apa dek Tera?”.

 “Waktu dulu mas Obiet ikut kontes menyanyi yang di televisi itu, bagaimana rasanya mas?” Tanya Tera kepadaku yang tentu saja membuatku sedikit terkejut.

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu dek?” Tanyaku lagi.

“Ya nda apa-apa, aku hanya ingin tanya saja. Hmm, ceritakan sedikit padaku tho mas” Pinta Lentera padaku.

Aku terdiam sesaat. Belum sempat aku menjawab pertanyaan Lentera, Ben muncul dari dapur dengan membawa sebuah piring yang berisi sesuatu. Entah apa itu. Lentera yang sedang menunggu jawabanku, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bentara.

“Dek Tera sayang, ini mas Ben bawakan sesuatu untukmu?” Bentara berkata manis sekali sambil menaruh piring yang dibawanya dihadapan Lentera. Kali ini tidak ada kejahilan yang dilakukan Bentara.

Aku terpaku seakan tak percaya melihat sikapnya. Bentara yang menyadari pandangan tak percayaku langsung berkata “Tenang saja mas Obiet, kali ini aku tidak akan menjahili dek Tera”.

Aku tertawa.

“Ini mas Ben buatkan roti bakar untukmu dek Tera, sebagai permintaan maafku karena telah memakan semua rotimu tadi pagi” Ujar Bentara sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Lentera tersenyum manis sekali “Benarkah ini untukku semua mas Ben?” Tanya Tera seakan tak percaya.

Bentara mengangguk mantap, yang langsung dibalas dengan pelukan dari Lentera. “Terima kasih banyak mas Ben. Aku sangat menyayangi mas Ben” Kata Lentera riang. Bentara salah tingkah dibuatnya.

Aku tersenyum melihat keduanya. Ini momen langka, maka langsung saja aku ambil gambar keduanya ketika sedang berpelukan.

Bentara yang menyadari aku foto segera melepaskan pelukan Lentera “Sudah dek, mas Ben tidak bisa napas karena pelukanmu”.

“Mas Ben ikut main bersama aku dan mas Obiet ya” Ajak Lentera.” Oh iya, tadi aku kan meminta mas Obiet untuk bercerita tentang kontes menyanyi itu. Ayo, ceritakan mas” Pinta Lentera lagi.

Bentara mengangguk tanda menyetujui usul Lentera.

Aku memandang keduanya. Terdiam sesaat. “Baiklah, akan mas ceritakan tentang pengalaman di kontes itu, lima belas tahun yang lalu”

***

Sebulan setelah dinyatakan lolos audisi tahap kedua, aku dan Ayah berangkat menuju Jakarta. Langkahku menuju panggung impian semakin dekat.

“Kau sudah siap Biet?” Tanya Ayah padaku ketika dalam perjalanan menuju Jakarta.

Aku mengangguk walaupun sebenarnya ada sedikit ketakutan yang terselip di hatiku.

“Tak perlu takut, ada Ayah di sampingmu” Kata Ayah yang seakan tahu akan ketakutanku.

“Iya Ayah” Jawabku tersenyum.

Begitu sampai di Jakarta, aku bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah. Aceh, Padang, Ambon, Jakarta, dan ternyata ada juga yang dari Jogja. Kami semua dikumpulkan di salah satu hotel di Jakarta. Selama mengikuti kontes itu kami diajari berbagai macam hal. Menyanyi, koreografi, juga diajari berbagai macam pelajaran sekolah. Karena tentunya selama mengikuti kontes itu, kami harus meninggalkan sekolah.

Hari pertama tampil di panggung kontes itu, aku merasa sangat gugup. Walaupun aku sudah sering tampil dihadapan banyak orang sebelumnya, kali ini sungguh berbeda, karena langsung disiarkan salah satu stasiun televisi. Dan lagi-lagi Ayahlah yang selalu menguatkanku.

“Kau pasti bisa Biet. Bernyanyilah dari hatimu, maka orang lain akan merasakan kedamaian ketika mendengar suaramu” Kata Ayah sambil memegang bahuku.

Aku mengangguk mantap pada Ayah. “Iya Ayah, aku pasti bisa” Jawabku mengepalkan tangan.

Di hari pertama tampil, pendukungku yang datang ke studio tidaklah banyak. Hanya segelintir orang saja. Mungkin masih banyak yang belum tahu akan diriku.

Dalam perjalananku di kontes itu, aku mendapat banyak sekali ilmu dan pembelajaran yang belum aku ketahui tentang musik. Aku serap semua ilmu itu dan aku terapkan dalam diriku. Hasilnya, dari hari ke hari aku mengalami kemajuan dalam bernyanyi. Juga dari sisi penghayatan, artikulasi, improvisasi, sampai dengan penampilan di atas panggung. Walau pun terkadang ada hari dimana aku tidak bisa tampil dengan maksimal. Tetapi setelah itu, aku akan segera memperbaikinya dan berusaha menjadi lebih baik lagi.

Pendukungku pun terus bertambah setiap harinya. Mereka datang dari berbagai daerah. Setiap minggu mereka selalu datang ke studio untuk mendukungku. Awalnya mereka hanya kelompok kecil yang belum memiliki nama dan tanpa atribut apapun. Namun, seiring berjalannya waktu mereka menamai kelompok mereka dengan sebutan ”d’Bieterz“. Sejak hari itu, mulailah mereka membuat atribut-atribut yang berkaitan dengan diriku, mulai dari kaos, spanduk, pin, topi dan lain sebagainya.

Dan sejatinya, perjalananku di  kontes itu adalah milik d’Bieterz.

***
“Lalu mas Obiet menang tidak di kontes itu”? Tanya Tera tiba-tiba  membuyarkan cerita masa laluku.

Aku dan Bentara menoleh ke arah Lentera.

“Aduh kau ini, mas Obiet kan sedang cerita. Jangan dipotong dulu dek” Kata Bentara sedikit sewot.

Lentera menekuk bibirnya. “Maaf tho mas Ben, aku kan nda sabar dengar cerita mas Obiet”

“Ya sudah mas Obiet lanjutkan ya ceritanya” Kataku mencairkan suasana.

Keduanya mengangguk menyetujui usulku. Kembali aku ceritakan kisah lima belas tahun silam.

***

Sejak mengikuti kontes itu, namaku mulai dikenal banyak orang. Mereka, khususnya d’Bieterz selalu setia mendukungku. Dimanapun aku berada, mereka selalu hadir untuk menemuiku. Bagiku, dukungan mereka adalah segalanya. Lebih dari apapun.

“Ayah, aku sangat bahagia, ternyata banyak orang yang menyukai suaraku. Sekarang aku sudah punya banyak penggemar” Kataku pada Ayah di suatu malam di kamar hotel.

“Kau harus bersyukur pada Tuhan atas segala yang kamu miliki saat ini Biet. Dan sesungguhnya, mereka bukanlah penggemarmu” Kata Ayah.

Aku mengernyitkan dahi, tak mengerti maksud dari kata-kata Ayah.

Seakan tahu yang ada di pikiranku, Ayah melanjutkan kata-katanya. “Ya, mereka bukanlah penggemarmu Biet. Melainkan suadaramu. Kakak-kakakmu. Sekarang ini kau memiliki banyak saudara untuk tempat berbagi kebahagiaan. D’Bieterz adalah saudaramu” Jelas Ayah sambil memegang bahuku.

Aku kembali menatap wajah Ayah.

“Walaupun saat ini kau telah dikenal banyak orang, kau harus tetap menjadi Obiet yang rendah hati dan sederhana. Jangan sampai kesuksesan merubahmu menjadi Obiet yang sombong. Ingatlah, bahwa semua yang kau raih saat ini adalah berkat campur tangan Tuhan dan berkat dukungan dari saudara-saudaramu d’Bieterz” Lanjut Ayah.

Aku terdiam sesaat, mencerna setiap kalimat yang diucapkan Ayah.

“Iya Ayah, aku akan tetap menjadi Obiet, anak Ayah yang suka makan telur dan tidak suka tikus ini” Ucapku.

Ayah tertawa mendengar ucapanku.

***

“Pasti bahagia sekali ya mas memiliki banyak penggemar” Lagi-lagi Lentera membuyarkan ceritaku.

Aku menolah ke arahnya, tersenyum kemudian menjawab. “Pasti dek, mas Obiet sangat bahagia memiliki d’Bieterz. Sama bahagianya dengan memiliki kalian adik-adik mas”.

Lentera mendekat ke arahku, kemudian memelukku erat sekali. “Aku sayang sekali sama mas Obiet” Ujarnya lirih tepat di telingaku.

Aku balas pelukannya dan membelai lembut rambutnya.

Kulirik Bentara, ia hanya terdiam melihatku dan Lentera. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Selang beberapa menit, Lentera melepas pelukannya dan kembali ke posisi duduknya semula.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Bentara. “Kau kenapa dek Ben?” Tanyaku padanya.
Bentara justru menunduk dalam diam. Cukup lama.

“Mas Ben kenapa? kok diam?” Lentera ikut bertanya.

“Ben?” Tanyaku lagi.

Bentara menoleh ke arahku sambil menyunggingkan senyum tengilny.”Aku tidak apa-apa kok mas Obiet. Ayo, lanjutkan lagi ceritanya” Jawabnya.

Aku justru menatap Bentara dengan pandangan menyelidik. Entah kenapa, aku merasa ia sedang memikirkan sesuatu. Menyadari aku perhatikan, Bentara justru terlihat salah tingkah.

“Kenapa mas Obiet menatapku seperti itu? membuatku takut saja” Kata Bentara.

“Tidak apa-apa” Jawabku singkat sambil mengangkat bahu.

Selang beberapa detik, Lentera justru mendekati Bentara, kemudian memeluknya, erat sekali. Dan kali ini, Bentara tidak segera melepas pelukannya, tetapi membalasnya erat, penuh kasih sayang.

“Mas Ben jangan sedih ya, aku juga sangat menyayangi mas Ben kok” Ucap Lentera dalam pelukannya. “Tetapi mas Ben janji ya, tidak akan menjahili aku terus” Lanjutnya.

Spontan aku tertawa mendengar kalimat terakhir Lentera.

Beberapa detik kemudian, Lentera melepas pelukannya. Kemudian berjalan menuju dapur. Dan kembali dengan membawa beberapa botol minuman.

“Ini untuk mas Obiet, ini untuk mas Ben, dan ini untukku” Lentera membagikan botol minuman itu pada kami. Kemudian tangan mungilnya juga membagikan roti bakar yang tadi diberikan oleh Bentara. “Ini untuk mas Obiet lagi, ini untuk mas Ben, dan ini untukku. Ayo kita makan bersama” Ajak Lentera pada kami yang sedari tadi hanya memperhatikan apa yang dilakukannya.

Begitulah, dari kecil kami selalu diajarkan oleh Ayah dan Ibu untuk berbagi terhadap sesama. Seberapa pun rezeki yang kami punya, pasti akan kami sisihkan untuk berbagi dengan orang lain.

“Lanjutkan lagi mas Obiet ceritanya” Pinta Lentera ditengah kesibukannya mengunyah roti bakar.

***

Aku memang bukanlah pemenang dalam kontes itu, hanya mampu menembus empat besar. Tetapi sungguh, pengalaman dan ilmu yang aku dapatkan dari kontes itu sangatlah berharga. Lebih berharga dari hadiah sang pemenang. Ayah selalu mengatakan bahwa uang bukanlah tujuan utamaku bernyanyi. Aku bernyanyi untuk memberikan kedamaian bagi siapa saja yang mendengarkan suaraku.

Sejak berakhirnya kontes itu, aku kembali ke kota kelahiranku. Kembali melanjutkan pendidikanku di sekolah dasar dan kembali bermain dengan teman-temanku. Yang berbeda, kali ini rumahku sering kali didatangi saudara-saudaraku. D’Bieterz.

Ya, kakak-kakak d’Bieterz sering datang dan menginap di rumahku. Bermain, berbagi cerita bahkan tak jarang mengajariku bermain gitar. Aku senang, karena rumahku tak pernah sepi lagi. Mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Sumatra, bahkan Papua. Mereka datang hanya untuk menemuiku. Sungguh, dengan adanya mereka, aku merasa sangat istimewa.  

Setelah lulus dari kontes itu, aku dan semua teman finalis membuat album bersama.  Beberapa bulan setelah album itu launching, kami kembali disibukkan dengan kegiatan promo, bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain di berbagai daerah. Setelah kegiatan promo berakhir, kami kembali ke kota masing-masing. Dan aku kembali menjadi Obiet Panggrahito sang Putera Temanggung.

Aku kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Sekolah, bermain, membantu ibu, bernyanyi bersama Ayah, dan mengisi berbagai acara di kotaku. Memang sejak saat itu, aku tak banyak muncul di layar televisi. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa berkomunikasi lagi dengan d’Bieterz, kami masih sering berkomunikasi melalui media sosial. Dan hampir tiap tahunnya, mereka membuat acara untuk ulang tahunku yang diberi nama “SOL” (Share Our Love).

Waktu terus berjalan, hingga beberapa tahun setelah itu, aku benar-benar mengeluarkan album soloku yang berjudul “Hanya Dirimu”. Album itu aku dedikasikan untuk d’Bieterz. Karena d’Bieterz selalu setia mendukungku, tulus mendoakanku dan selalu berdiri tegak di sampingku untuk menemani sampai ke puncak. Mereka adalah orang-orang yang sangat berarti bagiku.

Beberapa tahun setelah itu, aku tak pernah lagi mengeluarkan album. Namun, bukan berarti aku berhenti bernyanyi. Aku tetap bernyanyi, bahkan sering kali mengisi acara di berbagai daerah. Dan terkadang, di sela-sela waktu, aku mulai belajar untuk menciptakan lagu dan mengcover beberapa lagu yang kemudian aku publish di media sosial sebagai obat rindu bagi mereka yang merindukanku.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun.

Tanpa terasa, aku telah memasuki masa remaja, yang banyak dikatakan orang sebagai masa puber. Aku telah menjadi siswa SMA di salah satu sekolah unggulan di kotaku. Layaknya pelajar kebanyakan, tugasku adalah masuk sekolah, belajar, dan mengerjakan tugas. Selain itu, aku juga ikut bermain band bersama teman-teman sekolahku. Banyak sekali cerita di masa-masa SMA. Tetapi dalam perjalanannya, aku tak sampai selesai menghabiskan masa remajaku di SMA itu.

Tuhan memiliki rencana lain untuk hidupku.

Sebuah label musik Malaysia merekrutku untuk menjadi salah satu artisnya. Terkejut, itu pasti. Bahagia dan bangga, itu sudah jelas. Namun, Ayah dan Ibu tidak serta merta menerima tawaran itu. Banyak yang harus dibicarakan oleh Ayah dengan pihak manajemen label itu. Akhirnya, aku dan Ayah yang berangkat menuju Malaysia. Alangkah terkejutnya aku, ketika aku tahu bahwa mereka telah memperhatikan aku sejak kontes menyanyi itu, dan mereka terus mengikuti perkembanganku dari waktu ke waktu. Sungguh, saat itu aku merasakan kasih sayang Tuhan begitu besar padaku.

Setelah perjanjian kontrak selesai, aku mulai menjalani hari-hariku sebagai penyanyi. Kali ini bertaraf internasional. Single pertama mulai dibuat dan dipublish. Betapa bahagianya diriku, ternyata banyak orang yang menyukai single pertamaku. Dan keluarga d’Bieterz kembali bertambah, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Malaysia. Aku diterima begitu hangat di negeri Jiran.

Namun, benar yang dikatakan banyak orang. Bahwa setiap kesuksesan memang memerlukan pengorbanan dan usaha yang tidak mudah. Awalnya, waktu sekolah dan berkarir aku bagi. Dua minggu aku habiskan di Malaysia untuk rekaman. Dua minggu di kotaku untuk sekolah. Tetapi, semakin jauh perjalanannya, ternyata aku tidak bisa menjalani dua hal itu dalam satu waktu, di tempat yang berbeda pula. Aku harus mengorbankan salah satunya.

Dan saat itu, aku benar-benar dihadapkan pada dua pilihan yang begitu penting dalam hidupku.
Jika aku memilih untuk tetap berada dikotaku, mungkin impianku untuk menjadi penyanyi internasional akan padam. Sebaliknya, jika aku memilih untuk pindah ke Malaysia demi impianku, maka aku harus rela tinggal jauh dari keluarga yang kucintai.

Tetapi hidup adalah pilihan. Aku harus memilih.

Setelah aku renungkan, dengan doa restu Ayah dan Ibu (yang tentunya berat sekali menerima keputusanku) aku memilih untuk berhijrah ke Malaysia. Bergerak maju demi impianku. Sekolah dan karir akan aku jalani di negeri itu. Sedih, itu sudah pasti. Karena aku akan tinggal berjauhan dengan orang-orang yang aku sayang. Dan kesedihanku ini juga dirasakan oleh mereka, d’Bietez. Di media sosial banyak sekali ungkapan rasa sedih yang mereka tujukan untukku. Tetapi ini adalah hidupku,  dan aku telah memilih. Apapun resikonya aku siap untuk menghadapinya. Dan lagi-lagi, sejatinya semua usahaku ini adalah untuk mereka yang teramat sangat menyayangiku, d’Bieterz.

Awalnya, sebulan sekali aku pulang ke Temanggung untuk melepas rindu dengan orang-orang terkasih. Lalu, tiga bulan sekali. Begitu aku mulai disibukkan dengan banyak kegiatan di Malaysia, hampir enam bulan sekali aku baru pulang ke kota kelahiranku.

Dalam hitungan bulan, aku sudah benar-benar bisa diterima oleh semua orang di negeri Jiran ini. Hampir setiap saat, lagu-lagu dari album internasional pertamaku mengudara di berbagai radio. Perlahan namun pasti, aku mulai menapaki tangga-tangga kesuksesan. Namun, aku sadar bahwa aku harus berhati-hati dalam menapaki setiap tangganya. Aku tidak mau terpeleset lalu jatuh. Aku harus selalu ingat akan Tuhan, karena dengan cinta dan kasihNya, aku bisa sampai pada titik ini.

Kegiatanku semakin banyak. Selain bernyanyi tentunya, aku juga mulai disibukkan dengan kegiatan photoshoot, interview di berbagai radio dan stasiun televisi, serta melakukan promo tour dari satu kota ke kota lain. Dengan semua kegiatan yang ada, aku mulai jarang pulang ke Temanggung. Bahkan dalam satu tahun aku hanya bisa pulang sekali.

Hitungan tahun hijrah ke Malaysia, karirku semakin cemerlang. Sekarang, pasaran albumku bukan hanya di Malaysia, tetapi mulai merambah ke pasar musik China, Hongkong dan Singapore. Semua itu tak  mudah aku lakukan. Berat. Sangat berat. Dalam perjalanannya, sering kali aku merasa lelah, sedih, dan sepi. Bukan karena aku tidak mencintai pekerjaanku. Sama sekali bukan. Tetapi karena aku tinggal jauh dari keluarga, sering kali rasa rindu datang menghimpit perasaanku. Dan ketika rasa rindu itu datang, ingin sekali aku pulang ke istana mungilku di Temanggung. Namun, apalah dayaku, setumpuk pekerjaan tak mungkin aku tinggalkan. Maka yang hadir hanyalah rasa sedih dan sepi. Lagipula, tak bisa berjumpa langsung bukan berarti aku tak bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Aku tetap bisa berkomunikasi melalui telepon. Paling tidak, bisa sedikit mengobati rasa rinduku kepada mereka.

Bertahun-tahun hidup di negeri orang, mampu merubah diriku. Aku bukan lagi Obiet Panggrahito si pemalu. Kini, aku telah tumbuh menjadi Obiet Panggrahito, laki-laki dewasa yang kuat, mandiri dan bertanggungjawab. Walau berat rasanya, aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Bukan hanya untuk diriku tetapi juga untuk orang-orang yang telah tulus mendukung dan mendoakanku.

Dalam hidup aku selalu meyakini, bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Semua yang terjadi dalam hidupku adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untukku. Sabar, usaha, belajar adalah jalanku menuju kesuksesan. Dan puncak dari semua itu adalah doa. Doaku, doa Ayah dan Ibu, doa adik-adikku, doa orang-orang yang menyayangiku, semua adalah jembatan penghubungku dengan Tuhan. Dengan doa, Tuhan selalu ikut serta dalam perjalanan hidupku. Seperti nasehat yang disampaikan Ayah dan Ibu.

***

Aku menyelesaikan ceritaku. Hampir satu jam aku menceritakan kisah perjalanan hidupku pada adik-adikku. Lentera berjalan menuju ke arahku, yang kemudian duduk di pangkuanku.

“Aku bisa seperti mas Obiet tidak ya?” Ujarnya lirih.

Aku tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecilku ini. kubelai lembut rambutnya yang harum. “Kenapa dek Tera ingin seperti mas Obiet?” Aku balik bertanya.

Lentera melipat bibirnya, bola matanya yang kecil terlihat berputar-putar, jari telunjuknya yang mungil diletakkan disamping matanya, gayanya persis sekali seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. 

“Ya, aku ingin menjadi penyanyi terkenal juga seperti mas Obiet” Jawabnya dengan wajah polos.

“Mana bisa kamu seperti mas Obiet dek, suaramu kan cempreng. Kalau kamu jadi penyanyi, bisa-bisa yang mendengarkan telinganya rusak”Jawab Bentara meledek Lentera.

Lentera sudah siap menghampiri Bentara dengan wajah kesal, namun berhasil kucegah dengan memeluknya. Alhasil, Lentera tidak jadi melancarkan jurus cubitan mautnya kepada Bentara, dan kembali duduk di pangkuanku. Bentara justru mengeluarkan senyum tengilnya.

“Nanti kalau dek Tera sudah besar dan sudah bisa memilih sesuatu yang dek Tera sukai, dek Tera juga akan merasakan hal yang sama seperti mas Obiet. Bagaimana rasanya berusaha, belajar dan bertanggungjawab. Mau menjadi penyanyi atau apapun nantinya, dek Tera harus selalu berusaha dengan giat agar semua yang dek Tera inginkan bisa tercapai. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa pada Tuhan. Karena tanpa restu dari Tuhan, dek Tera tidak akan bisa meraih semuanya. Juga restu dari Ayah dan Ibu” Kataku dengan penuh kelembutan pada Lentera.

“Berarti aku harus selalu belajar ya mas Obiet?” Tanyanya lagi.

Aku tersenyum dan mengangguk mantap. Lentera tersenyum, manis sekali. Lalu memelukku untuk yang kesekian kalinya.

“Terima kasih mas Obiet” Ujarnya lirih.

 Aku membalasnya dengan membelai lembut rambut adik kecilku ini. Sekilas kualihkan pandanganku ke arah adikku yang tampan, tampak Bentara menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa dengannya?” Tanyaku dalam hati masih dalam pelukan Lentera. Tetapi aku urungkan niatku untuk bertanya. Pasti dia akan menjawab “Aku tidak apa-apa” kalau aku bertanya. Sudahlah.

“Wah wah, ada apa ini? kok dek Tera peluk mas Obiet?” Tanya Ibu yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar. Lalu ikut duduk di samping Bentara. Menyadari raut muka Bentara yang lain dari biasanya, Ibu pun bertanya. “Kau kenapa Ben?” Tanya Ibu lembut mengusap kepala Bentara.

Bentara menatap wajah Ibu, dalam sekali, membuat Ibu mengernyitkan dahi dan penasaran. Tetapi detik berikutnya, ia kembali menyunggingkan senyum tengilnya. “Aku tidak apa-apa Bu” Jawabnya santai. Nah, benar sekali pikiranku. Aku hampir saja tertawa mendengar ucapan adik lelakiku itu.

“Ya sudah, kalau kau tidak apa-apa” Jawab Ibu tak kalah santainya. “Dek Tera, ayo bereskan mainannya. Setelah itu tidur siang, dek Tera sudah terlihat lelah” Ajak Ibu pada Lentera.

Tanpa diminta dua kali, Lentera segera membereskan mainannya. Sedangkan Ibu membawa piring dan botol minuman ke dapur.

“Kalau begitu, aku juga masuk kamar ya mas”Bentara berpamitan kepadaku.

“Tumben sekali kau dek. Ada apa di kamar?” Tanyaku penasaran.

“Tidak ada apa-apa mas, aku ingin menyelesaikan tugas sekolahku saja” Jawabnya, kemudian berdiri hendak ke kamar. Baru beberapa langkah kakinya bergerak maju, Bentara kembali menoleh ke arahku. “Oh iya, tolong jangan ganggu aku dulu ya mas” Ujarnya ringan dengan senyum lebarnya.

“Ah, kau ini gaya sekali Ben” Jawabku santai.

Bentara tak menggubris perkataanku. Ia benar-benar masuk kamar dan menutup rapat pintunya. Lentera telah selesai membereskan mainannya, kemudian menyusul Ibu masuk ke dalam kamar. Kini aku sendiri di depan televisi. Tidur siang, mataku tidak mengantuk. Maka kuputuskan untuk menonton film saja. Menikmati hari terakhir liburanku di istana mungil ini.

***

Matahari mulai tenggelam berganti tugas dengan sang bulan dan bintang yang menerangi malam.

Malam ini ada yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kami sekeluarga berencana makan malam di luar. Mengingat malam ini adalah malam terakhirku di rumah, aku ingin menghabiskannya dengan sesuatu yang berbeda.

Tok tok tok....

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kubuka pintu, terlihat jelas Lentera berdiri di ambang pintu menggunakan gaun pink selutut dengan pita besar di pinggang, rambutnya dihiasi dengan bando berwarna senada dengan gaunnya. Cantik sekali adik kecilku ini.

“Mas Obiet sudah siap?” Tanyanya padaku dengan senyum manis. “Ayah, Ibu dan Mas Ben sudah menunggu di bawah”.

Aku mengangguk. “Mas sudah siap dek. Ayo, kita beramgkat” Jawabku.

Dengan sigap, Lentera menggenggam tanganku erat dan berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sana, sudah ada Bentara dan Ayah yang tengah duduk di sofa dan Ibu yang baru saja keluar dari kamar.

“Ayo, kita berangkat sekarang, supaya tidak kemalaman” Ayah berseru pada kami. “Kau yang menyetir ya Biet” Kata Ayah sambil memberikan kunci mobil padaku.

Ibu, Bentara dan Lentera duduk di kursi belakang, sedangkan Ayah duduk di sampingku. Kunyalakan mobil dan berjalan menyusuri jalan kecil di tengah sejuknya udara malam Temanggung. Kotaku ini memang sungguh indah, tepi jalan dipenuhi dengan pohon-pohan besar yang rindang. Jika ini adalah siang hari, maka sepanjang jalan akan terlihat gunung dan persawahan yang berbaris rapi.

Mobil kami melesat menuju sebuah rumah makan. Aku memarkirkan mobil di bawah sebuah pohon besar. Rumah makan yang kami datangi ini sangat kental dengan nuansa khas Jawa. Begitu kami memasuki pintu, kami langsung disambut hangat oleh dua orang pramusaji yang memakain pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon di kepala. Salah seorang pramusaji terlihat datang menghampiri kami, lantas dengan ramah bertanya.

“Permisi, untuk berapa orang mas?” Tanyanya tersenyum ramah.

“Untuk lima orang” Jawabku tak kalah ramah.

“Baik, mohon ditunggu sebentar ya mas”. Kemudian pramusaji itu terlihat bertanya dengan sesama rekannya. Berbicara sebentar kemudian menghampiri kami lagi.

“Terima kasih sudah menunggu mas, mari ikuti saya” Ajaknya kepada kami.

Selang beberapa menit, kami sampai di sebuah saung mungil yang berdiri tepat diatas kolam ikan dan dikelilingi dengan tanaman serta lampu hias yang sangat indah.

“Silahkan” Pramusaji tersebut mempersilahkan kami untuk duduk. “Bisa saya catat pesanannya sekarang  mas” Tanyanya.

Setelah mencatat pesanan, pramusaji tersebut meninggalkan kami.

“Aku suka sekali tempat ini, indah banyak lampunya” Ujar Lentera tersenyum. ‘’Coba di rumah kita pasang lampu seperti ini, pasti indah juga Ayah’’ Celetuknya lagi.

Kami tertawa seketika mendengar celetukan Lentera.

Lho, kenapa semua tertawa tho?” Tanya Lentera bingung.

“Aduh kau ini, kalau di rumah kita dipasang lampu seperti ini, nanti dikira orang-orang rumah kita itu restoran dek” Jawab Bentara sambil tertawa.

Lentera tampak menggaruk-garuk kepalanya sambil cengir kuda, “Hehehe, iya juga ya”

Kami semua tertawa lagi. Adik-adikku ini memang selalu tahu bagaimana caranya menghangatkan suasana. Rasanya ingin sekali aku menghentikan waktu, agar malam ini tidak cepat berlalu. Aku masih ingin berada di tengah-tengah mereka, keluarga yang sangat aku sayangi. Tapi jelas itu tidak mungkin, besok pagi aku harus rela berpisah lagi dengan mereka demi sebuah impian. Aahh, sudahlah. Aku tidak boleh mengeluh.

“Besok pesawatmu berangkat jam berapa Biet?” Tanya Ayah membuyarkan lamunanku.

Aku yang terkejut lantas menjawab pertanyaan Ayah, “Jam dua siang Yah”.

“Berarti kita harus berangkat pagi ya?” Tanya Ayah lagi.

Aku mengangguk.

“Aku mau ikut antar mas Obiet ya Yah” Lentera berseru semangat.

“Aku juga loh Yah” Bentera tak mau kalah dengan adiknya.

“Iya iya, besok kita semua antar mas Obiet sampai Bandara” Kali ini Ibu yang menjawab.

Lentera bersorak riang. Entah aku harus bahagia atau bersedih melihat adikku yang begitu semangat ingin mengantarkan keberangkatanku esok hari.

Tak berapa lama, makanan pesanan kami datang. Bentara terlihat begitu bersemangat, tampaknya cacing-cacing di perutnya sudah sangat lapar. Aku tersenyum melihatnya. Ia memang selalu bersemangat kalau soal yang satu ini. Bahkan di tengah keasyikannya makan pun, ia masih sempat-sempatnya menjahili Lentera, dengan mengambil sebagian isi piring adiknya itu. Lentera kesal, kemudian membalas mengambil makanan di piring kakaknya. Selalu begitu. Tetapi justru hal-hal seperti ini yang kelak akan kurindukan.

Ayah dan Ibu hanya mampu menggelengkan kepala tanpa banyak bicara.

Makan malam kali ini sungguh istimewa. Penuh keceriaan dan kehangatan. Makan malam terakhirku dengan keluarga tercinta.

***

Sejam berlalu sejak aku sampai di rumah. Barang-barangku pun telah aku kemasi ke dalam koper. Aku sudah berbaring di tempat tidurku, tetapi entah mengapa mata ini belum juga mau terpejam. Aku sedang mencoba memejamkan mata sampai seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju pintu.

‘’Mungkin Lentera yang meminta tidur denganku lagi’’ Pikirku.

Kubuka pintu, tampak wanita cantik paruh baya berdiri menatapku. Ibu.

“Ibu, ada apa? Kenapa belum tidur?” Tanyaku.

“Kau sendiri belum tidur Biet? Boleh Ibu masuk?” Ibu balik bertanya.

Aku hanya tersenyum sambil mempersilahkan Ibu masuk ke dalam kamarku. Ibu duduk di tepi ranjangku, dan aku duduk tepat disebelahnya. Kini matanya tertuju pada sebuah koper besar tepat disudut ruangan.

“Kau sudah berkemas?” Tanya Ibu.

Aku mengangguk.

Ibu tersenyum. Tapi kali ini, aku melihat senyum yang berbeda dari biasanya. Seperti ada kesedihan, ketidakrelaan dan kegundahan di dalam senyum Ibu. Dan seketika Ibu memelukku, erat sekali. Aku tertegun dan dalam sepersekian detik membalas pelukan Ibu. Hangat, penuh cinta dan kasih sayang. Itu yang aku rasakan dari pelukannya

Ibu melepas pelukannya, kemudian kedua tangan lembutnya memegang wajahku. “Rasanya baru kemarin Ibu melahirkanmu Biet, merawatmu, mengajarimu berjalan, berbicara, mengantarmu ke sekolah. Tetapi hari ini, kau telah tumbuh sebesar ini. Tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang membanggakan” Ucap Ibu. Aku melihat ada bulir-bulir mutiara yang jatuh membasahi pipi bidadariku ini. Tanganku segera menghapusnya. Aku tidak ingin ada air mata yang jatuh di pipi Ibu.

“Jangan menangis Bu, aku mohon. Aku tidak ingin melihat  Ibu bersedih” Ucapku lirih.

Ibu tersenyum, melepaskan tangannya dari wajahku kemudian erat memegang kedua tanganku. “Ini bukan air mata kesedihan Biet. Ini justru air mata kebanggaan. Kau tahu, Ibu sungguh bangga padamu Biet. Sangat bangga. Saat ini kau telah meraih mimpi-mimpimu. Ibu tahu, perjalanan yang kau tempuh tidaklah mudah. Banyak sekali hambatan dan rintangan yang kau lalui. Tetapi hari ini, kau mampu sampai pada titik ini. Titik dimana tidak semua orang mampu menggapainya. Dan diatas semua kesuksesan yang telah kau raih saat ini, kau sama sekali tidak berubah. Kau tetap Obiet yang dulu, anak Ibu yang ramah, rendah hati, dan sederhana. Harta, kesuksesan dan popularitas tidak bisa mengalahkanmu. Ibu sungguh bangga memilikimu Biet” Ucap Ibu penuh ketulusan.

Aku menunduk terdiam, menahan semua rasa yang bergejolak dalam hati.

“Kenapa Biet?” Tanya Ibu lembut.

Aku tetap menunduk.

Kembali tangan halusnya memegang dan mengangkat wajahku. “Ibu adalah orang yang mengandungmu selama sembilan bulan dan melahirkanmu. Ibu tahu dan bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan saat ini Biet. Kau pasti berat meninggalkan kami kan? Berat berpisah dengan adik-adikmu? Ibu sangat paham akan perasaanmu sayang”.

Tanpa kusadari perlahan mataku basah oleh air mata. Ibu memang orang yang paling paham akan perasaanku. Sekali lagi aku memeluknya erat sekali. Ibu balas membelai lembut kepalaku.

“Apapun yang kau rasakan saat ini, percayalah itu hanya perasaan sesaat Biet. Kau harus mampu melawannya. Kau harus tetap bertanggug jawab dengan semua pekerjaan yang tengah menantimu” Ucap Ibu yang terdengar jelas di telingaku.

Aku melepas pelukanku. “Ibu benar, berat rasanya bagiku untuk meninggalkan rumah ini, meninggalkan Ibu, Ayah dan adik-adik. Ingin sekali aku berada di sini selamanya. Dan lagi-lagi Ibu benar, di sana banyak pekerjaan yang tengah menantiku. Dan aku harus bertanggungjawab untuk semua itu”. Aku terdiam sesaat. “Tetapi terkadang, ada saat-saat dimana aku butuh kehadiran keluarga di sisiku Bu. Butuh pelukan hangat Ibu, nasehat Ayah, celotehan Lentera bahkan kejahilan Bentara. Dan ketika saat itu datang, aku hanya mampu menyimpannya seorang diri, menahannya dalam diam dan menangis dalam sepi. Atau jika ada kesempatan, aku hanya bisa mendengar suara Ibu lewat telepon. Itu pun tidak banyak waktu Bu. Hmmm” Aku menghela napas.

Ibu kembali tersenyum dan memegang erat kedua tanganku. “Kau tahu Biet, kami selalu ada di sisimu, tak pernah jauh. Jika kau rindukan kami, berdoalah. Maka kau akan merasakan kehadiran kami. Kau tentu tahu bukan bahwa doa tak kenal jarak dan waktu. Sejauh apapun kau melangkah, beribu-ribu mil pun jarak yang memisahkan kita, dengan doa kita akan selalu merasa dekat. Tuhan itu sangat baik Biet” Ucap Ibu membesarkan hatiku.

Aku terdiam dan mencerna setiap kata yang diucapkan Ibu. Dalam beberapa saat rasanya segumpal beban yang tadinya bersarang di hatiku, seakan hilang. Ibu memang selalu bisa meneduhkan hatiku. Entah bagaimana jadinya aku tanpa Ibu.

“Ibu benar, Tuhan sangat baik padaku, karena telah memberikan seorang Ibu yang luar biasa untukku. Terima kasih banyak Bu” Ucapku tersenyum dan dengan takzim mencium telapak tangan Ibu kemudian memeluknya. Untuk beberapa saat aku merasa sedang berada di surga.

“Ya sudah, kau istirahatlah Biet. Sudah larut malam”

Aku mengangguk dan tersenyum. Sebelum keluar dari kamarku, Ibu sempat mencium lembut keningku. Dan seketika aku merasa seperti Obiet lima belas tahun silam.

Malam ini aku tertidur. Lelap sekali. Ditemani jutaan bintang yang menghiasi hatiku.

***

Kicauan burung di jendela kamar membangunkan tidur lelapku. Kubuka mata dan kulirik jam di dinding kamarku. Pukul 05.45 pagi. Kuangkat tubuhku dari tempat tidur dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Hari ini liburanku telah usai dan akan kembali kepada rutinitasku di negeri seberang. Tetapi pagi ini seperti ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Lebih tepatnya ada sesuatu yang baru. Ya ada semangat, harapan serta doa baru di hatiku. Dan semua ini berkat nasehat yang Ibu berikan semalam. Selesai mandi dan berganti baju, aku turun ke bawah untuk sarapan. Ketika melewati kamar Bentara yang terbuka, kembali aku melihatnya sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya. Serius sekali.

“Kau masih sibuk mengerjakan tugas sekolah dek Ben?” Tanyaku di ambang pintu kamarnya. Aku mengurungkan niatku memasuki kamarnya, takut jika diusir lagi seperti tempo hari.

Bentara refleks menoleh. “Aaah, mas Obiet mengganggu saja. Sudah jangan ganggu aku dulu” Serunya dari dalam kamar.

“Kau tidak jadi mengantarku ke Bandara tho dek?” Tanyaku lagi tanpa menghiraukan larangannya.

Bentara bangkit dari duduknya, lantas berjalan ke arahku kemudian berkata “Maaf ya mas Obiet, aku masih sibuk dan belum bisa diganggu” Ujarnya sambil menutup pintu.

Aku mengernyitkan dahi tak mengerti apa sebenarnya yang sedang dilakukan adik laki-lakiku itu. Kuputuskan melangkahkan kaki menuju meja makan. Makanan lezat buatan Ibu telah menantiku. Ayah, Ibu dan Lentera juga telah siap di meja makan.

“Ayo, duduk mas Obiet. Ini sarapan untuk mas Obiet” Lentera dengan manisnya mengambilkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok. “Dan ini minumnya mas” Kembali ia menyodorkan segelas air untukku.

“Terima kasih dek Tera sayang” Ucapku membelai rambutnya. Ia tersenyum. Manis sekali.

“Ben kemana Bu, kok tidak ikut sarapan?” Tanya Ayah pada Ibu.

“Tadi sudah Ibu panggil Yah, katanya nanti saja belum lapar” Jawab Ibu.

“Tadi ketika melewati kamarnya, aku sempat bertanya Yah, katanya sedang sibuk tak bisa diganggu” Aku ikut menjawab.

“Sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu Yah, beberapa kali Ibu lihat dia bekerja sampai larut malam” Kata Ibu menambahkan.

“Mengerjakan apa Bu?” Tanya Ayah.

“Ya nda tahu Yah, mungkin tugas sekolah. Ibu nda berani bertanya, habis kelihatannya serius sekali”

Ayah mengangguk.

“Nanti kita berangkat jam berapa mas Obiet?” Tanya Lentera mengalihkan topik pembicaraan.

Aku menoleh ke arahnya. “Jam delapan dek, supaya tidak terkena macet” Jawabku.

“Semua sudah siap Biet?” Tanya Ibu.

Aku mengangguk “Sudah Bu”.

Kami menghabiskan sarapan pagi itu dengan perbincangan ringan. Sedangkan Bentara sedang  asyik menyelesaikan pekerjaannya di kamar. Ia harus menyelesaikannya pagi ini, sebelum jam delapan. Rasa lapar yang menyerang perutnya tidak ia hiraukan demi pekerjaan ini. Ia rela tidur larut malam bahkan begadang beberapa hari ini demi menyelesaikannya.

***


Selepas sarapan aku kembali ke kamarku. Merapihkan diri dan juga barang-barang yang akan kubawa. Sesaat aku terdiam, memandang setiap sudut kamar ini. Aku akan sangat merindukannya. Entah butuh waktu berapa lama lagi sampai aku bisa kembali ke kamar ini.

“Sudah siap Biet?”. Aku terkejut, menoleh ke belakang. Ternyata Ayah sudah berdiri di ambang pintu.

Aku mengangguk, membalikkan badan lantas melangkahkan kaki menuju pintu dengan koper besar di tangan. Sebelum benar-benar melangkahkan kaki keluar pintu, aku kembali menoleh ke dalam kamarku, “Selamat tinggal” Ujarku dalam hati. Ayah memegang bahuku, seakan tahu apa yang sedang kurasakan. Aku tersenyum mengisyaratkan bahwa “aku baik-baik saja Ayah”.

Kami berdua melangkahkan kaki bersama menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Lentera yang sedang duduk manis di sofa dan Ibu yang tengah merapihkan meja makan. Tetapi dimana Bentara? aku sama sekali tidak melihat adik laki-lakiku itu. Mataku mencari-cari sosoknya, tapi tidak ada. Pintu kamarnya pun tertutup rapat.

Mungkin ia masih sibuk dengan tugas-tugasnya” Pikirku dalam hati.

“Mungkin Bentara masih disibukkan dengan tugas sekolahnya Biet, sehingga tidak bisa ikut mengantarmu” Ucap Ibu seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku mengangguk, “Iya Bu, mungkin saja begitu”.

“Ayo kita jalan sekarang, kalau terlalu siang takut kena macet” Ayah berseru dari pintu depan.

Aku, Ibu dan Lentera segera mengikuti Ayah menuju mobil.  Sebelum masuk ke dalam mobil, aku sempat memandang istana mungilku ini, “Aku pasti akan kembali” Ucapku dalam hati. Kali ini Ayah yang menyetir mobil, aku duduk di samping Ayah sedangkan Lentera dan Ibu duduk di kursi belakang. Ketika mesin mobil mulai menyala dan Ayah siap melaju, saat itulah sesosok tubuh tinggi muncul dari balik pintu rumahku. Tubuh yang amat sangat kukenal. Bentara. Dia keluar dengan membawa sebuah tas besar di punggungnya. Segera berjalan cepat menghampiri kami.

“Ayah tunggu, kenapa aku ditinggal tho” Katanya dengan napas sedikit tersengal seperti habis lari marathon. Sebelum sempat Ayah menjawab pertanyaannya, ia telah masuk ke dalam mobil, duduk persis disamping Lentera.

Lho, Ayah kira kau tidak jadi ikut mengantar mas Obiet” Jawab Ayah.”Kata Ibu kau sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahmu” Jelas Ayah lagi.

Bentara menggeleng. “Tidak, aku sudah menyelesaikan semua tugasku Yah. Tadi aku sedang siap-siap. Tetapi ketika aku keluar kamar, di dalam sudah sepi. Lalu aku mendengar suara mesin mobil Ayah. Ya sudah aku segera keluar” Jawabnya.

Aku menoleh ke arahnya sekilas, lalu memalingkan wajahku ke arah jendela mobil, tersenyum. Aku senang karena akhirnya adik laki-lakiku ini bisa ikut juga mengantarkan keberangkatanku. Ayah mulai melajukan mobil. Melewati tiap jengkal jalan kota Temanggung menuju Bandara Adi Soecipto Yogyakarta. Dari balik jendela mobil, aku pandangi setiap sudut jalan yang kami lalui. Kubuka sedikit kaca mobil, terasa udara sejuk kota Temanggung menyapa tubuhku. Aku akan sangat merindukan kota ini, merindukan tiap jengkal jalannya, udaranya, dan semua yang ada di dalamnya.

“Tunggulah, aku pasti akan kembali lagi” Ucapku dalam hati.

“Mas Obiet kok melamun?” Dari kursi belakang, Lentera bertanya padaku.

Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya. “Mas Obiet tidak melamun kok dek Tera. Hanya sedikit mengantuk” Jawabku asal.

“Memangnya kamu dek, dari tadi bicara terus tak ada lelahnya” Celetuk Bentara sambil mengacak-acak rambut adiknya.

 “Aaah Ibu, mas Ben ini lho hobinya mengacak-acak rambutku terus” Adu Lentera kepada Ibu.

“Itu artinya mas Ben sayang padamu dek Tera” Jawab Ibu. Bentara tertawa merasa menang dibela Ibu.

“Iya, nanti kalau mas Ben sudah tidak bisa mengacak-acak rambutmu lagi, pasti dek Tera akan rindu” Ujar Ayah tertawa sambil terus melajukan mobil.

Lentera tampak bingung dengan ucapan Ayah. “Masa begitu Yah” Ucapnya polos.

Aku tertawa melihat wajah polos Lentera. Di susul dengan tawa Bentara, Ibu dan Ayah. Perjalanan ini sangat menyenangkan, diselingi dengan candaan-candaan ringan ala Lentera dan Bentara. Aku sungguh beruntung memiliki adik-adik seperti mereka. Mereka sangat cerdas, lucu dan tahu bagaimana cara menghibur orang lain. Mereka sangat istimewa dan berarti bagiku.

***

Tepat pukul 13.20 kami tiba di Bandara Adi Soecipto Yogyakarta. Lima jam perjalanan yang melelahkan. Bentara membantuku mengeluarkan koper dari bagasi mobil dan membawanya sampai ke ruang tunggu. Ayah berjalan di sisi kananku sedangkan tangan mungil Lentera memegang erat tangan kiriku. Ibu dengan setia berjalan di samping Ayah.

Kami tengah duduk santai ketika suara seorang wanita dari pengeras suara Bandara memberi pengumuman bahwa pesawatku akan segera berangkat. Itu artinya, aku harus segera check in. Dan disinilah perpisahan yang sesungguhnya dengan keluargaku.

Kupeluk tubuh Ayah, ksatriaku yang paling hebat. Tepat di telingaku Ayah berbisik.”Jangan pernah menyerah Biet. Ayah selalu yakin kau mampu melewati semuanya”. Aku mengangguk, masih dalam pelukan Ayah. “Iya Ayah. Aku akan terus berjuang” Ucapku mantap. Lantas mencium tangan Ayah.

Kemudian aku berlutut dihadapan seorang gadis cantik. Kupegang lembut wajahnya, kukecup keningnya dan berkata. “Jadi anak yang pintar ya dek Tera. Tolong jaga Ayah dan Ibu” Ucapku padanya. Gadis cantik dihadapanku ini hanya mengangguk kemudian erat memelukku.”Nanti mas Obiet pulang lagi kan?” Tanyanya penuh kepolosan.

“Iya dek, mas Obiet akan pulang lagi nanti. Kamu akan tunggu mas kan?” Tanyaku tersenyum.

Lentera menjawabku dengan tersenyum riang lantas memelukku kembali.

Kini aku berdiri tepat di hadapan seorang bidadari tercantik di hidupku. Ibu. Kali ini tidak ada kesedihan di wajah Ibu, yang ada hanya sebuah senyum ketulusan. Kupeluk bidadariku ini. Erat sekali. “Jaga diri baik-baik ya Biet. Jangan pernah lupa untuk berdoa” Ucap Ibu tepat ditelingaku. Aku mengangguk dalam pelukan Ibu. Melepaskan lantas berkata. “Iya Bu, aku akan selalu berdoa pada Tuhan. Karena dengan begitu aku akan selalu merasa dekat dengan keluargaku” Jawabku. Ibu tersenyum mendengar jawabanku. Kembali kucium telapak tangan bidadariku ini.

Persis di samping Ibu, berdiri adik laki-lakiku. Kudekati, dan tanpa berkata-kata kupeluk ia. Bentara membalasnya erat sekali. Tak lama kulepaskan pelukanku. Sambil memegang bahunya ku berkata, “Kau harus ingat pembicaraan kita tempo hari ya dek” Ucapku. Bentara tersenyum dan mengangguk mantap.

Sekali lagi kudengar suara seorang wanita yang memberikan pengumuman lewat pengeras suara Bandara.

“Baiklah, aku harus berangkat sekarang” Ucapku lirih. Rasanya air mataku ingin sekali keluar, namun kucoba untuk tahan. Aku tak ingin ada air mata.

Aku melangkah pelan menuju pintu masuk dengan membawa koper besar juga membawa semua semangat serta doa baru dari keluargaku. Persis sebelum kulangkahkan kaki menuju pintu masuk, suara yang amat sangat kukenal memanggilku.

“Mas Obiet”. Aku menoleh, Bentara berlari kecil menghampiriku.

Tepat di hadapanku, Bentara mengambil sesuatu dari tas besar di punggungnya. Sebuah gulungan kertas besar yang diikat dengan pita biru. Lalu menyerahkannya kepadaku.

“Kuharap dengan ini, dimana pun mas Obiet berada. Mas Obiet selalu merasakan kehadiran kami” Ucapnya tulus dengan senyum termanisnya.

Aku terpaku mendengar apa yang diucapkan adik laki-lakiku ini. Sekali lagi, kupeluk ia.

“Terima kasih dek Ben. Terima kasih banyak”.

Kembali kuberjalan menuju pintu masuk. Dari balik pintu yang dibatasi dengan kaca, aku masih bisa melihat orang-orang yang kusayang berdiri di sana. Ayah, Ibu, dek Ben dan dek Tera. Kulambaikan tangan kananku untuk terakhir kalinya. Sampai mereka benar-benar hilang dari pandanganku.

***

Perlahan, pesawat yang kutumpangi mulai melaju, meninggalkan Bandara Adi Soecipto. Kusandarkan tubuhku dikursi yang aku duduki, mencoba untuk tidur. Mencoba meregulasi semua perasaan yang sedang berkecamuk dihatiku. Namun seketika, aku teringat sesuatu. Kuambil sebuah gulungan kertas besar yang diikat dengan pita biru. Kubuka. Dan betapa terkejutnya aku melihat apa yang ada dalam gulungan kertas besar itu. Sesuatu yang sangat indah. Teramat sangat indah. Ternyata terselip sebuah surat juga di dalamnya.

Dear Mas Obiet,
Saat mas Obiet membaca surat ini, mungkin aku, Ayah, Ibu dan dek Tera sedang dalam perjalanan pulang ke Temanggung. Dan mas Obiet sedang dalam perjalanan menuju Malaysia. Walaupun jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kita tetaplah satu. Ini bukan kata-kataku loh mas, percayalah. Ini adalah nasehat yang selalu Ayah ucapkan padaku. Sampai-sampai aku hafal di luar kepala.

Aku tersenyum membacanya.

Mas Obiet harus tahu, walau tak pernah aku ucapkan secara langsung. Aku sangat menyayangi mas Obiet melebihi apapun. Mas Obiet yang selalu menjadi sumber inspirasiku dalam bermusik. Semangatmu, kegigihanmu, serta perjuanganmu selalu aku jadikan panutan. Mas Obiet kakak terbaik di seluruh dunia. Dan aku sangat berterima kasih pada Tuhan telah memberikan seorang kakak yang begitu hebat seperti mas Obiet
Sudah, jangan menangis mas. Tidak malu dilihat orang. Hehehe

Seketika aku mengusap kedua mataku. Ahh, Bentara ini. Kubaca kembali isi suratnya.

Oh iya, semoga mas Obiet suka dengan hadiahku ya. Meskipun sedikit berantakan, aku berusaha sekali membuatnya. Dan sebenarnya pekerjaan ini yang membuatku sampai mengusir mas Obiet  dari kamarku tempo hari. Maaf ya mas. Hehehe. Seperti kataku tadi, aku harap dengan hadiah ini, dimanapun mas Obiet berada, mas selalu merasakan kehadiran kami. Karena kita adalah satu dan tali cinta kita akan selalu terikat kuat.
Hati-hati di jalan ya mas, jaga diri dan kesehatan. Kami akan selalu menantikan mas Obiet di rumah. Oh iya, mungkin ketika mas Obiet kembali lagi nanti, aku sudah bisa mengalahkan kepopuleran mas Obiet di Temanggung. Atau boleh jadi, nanti orang-orang akan lebih banyak meminta foto bersamaku ketimbang mas Obiet. Hihihi.
Penuh cinta,
Bentara. Laki-laki dengan sejuta pesona.

Aku tersenyum simpul. Melipat surat itu dan menyimpannya dengan rapi di tasku. Kubuka kembali gulungan kertas besar itu. Sebuah lukisan yang dibuat dengan begitu indah oleh Bentara. Dalam lukisan itu tampak wajah Ayah, Ibu, Bentara, Lentera dan aku. Kusandarkan lagi tubuhku di kursi dan menoleh ke jendela.

“Aku pun sangat menyayangimu dek Ben” Ucapku dalam hati.

Perlahan kucoba untuk memejamkan mata. Pesawat yang kutumpangi terbang semakin tinggi meninggalkan Indonesia.

***

“Aaah Ayah, ini loh mas Ben, menjahili aku terus” Adu Lentera kepada Ayah yang sedang menyetir mobil.

“Mas Beeen” Ucap Ayah masih terus fokus ke jalan di hadapannya.

Namun bukan Bentara namanya kalau tidak menjahili Lentera. Kali ini ia kembali mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu.

“Mas Ben, sudah” Kali ini Ibu yang angkat bicara.

“Memangnya mas Ben nda ada hobi lain tho selain mengacak-acak rambutku?” Tanya Lentera kesal.

“Ada” Jawab Bentara ringan.

“Apa?” Tanya Lentera penasaran.

“Mencubit pipimu” Ujar Ben seraya mencubit pipi Lentera dengan kedua tangannya.

“Aaaahhhhh” Kali ini Lentera berteriak.  Sedangkan Bentara justru tertawa penuh kemenangan. Ibu dan Ayah hanya mampu menggeleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya.

Puas menjahili Lentera, Bentara mengalihkan pandangannya ke jendela dan menatap lembut ke langit biru. Dalam hati ia berujar.

“Sampai jumpa mas Obiet. Cepatlah kembali”

***